oleh

Direktur YPMAK Pastikan Akan Gelar Rapat, Bahas Kasus Pelecehan Seksual di SATP

TIMIKA – Direktur Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), Vebian Magal memastikan, akan mengadakan rapat bersama pengurus, pengawas dan pembina YPMAK menanggapi kasus pelecehan seksual yang terjadi di Sekolah Asrama Taruna Papua. Hal itu juga sekaligus menanggapi aspirasi, yang disampaikan sejumlah orang pada Senin (15/3) pagi menjelang siang.

Vebian Magal menyatakan, sejumlah aspirasi yang diterima pihaknya tersebut akan diteruskan dalam rapat yang rencananya digelar pada Senin sore.

“Nanti kita akan sampaikan dalam rapat itu dihadapan Pembina dan pengurus. Sedangkan keputusannya ada di tangan pengawas dan pembina,” ujarnya.

“Rapatnya kita lakukan jam tiga sore nanti,” sambungnya.

Sementara itu, usai mencuatnya kasus ini ke publik, ia memastikan koordinasi yang berjalin antara YPMAK dan Yayasan Lokon berjalan baik. Sebagai mitra, katanya, Yayasan Lokon koperatif dalam memberikan keterangan, dan melihat para korban dalam kasus pelecehan seksual tersebut.

“Jadi kami tidak saling menyalahkan. Tapi ya itulah, tuntutan dari para keluarga berbeda,” katanya.

YPMAK sendiri katanya sudah mencoba menangani perkara tersebut. Apalagi katanya, kasus itu terjadi karena adanya individu yang berbuat dan bukan institusinya.

“Tindakan individu, perilaku individu, maka kami sebenarnya sudah koperatif untuk memproses secara hukum positif atas perbuatannya. Dan terbukti pelakunya kan ditahan,” ungkapnya.

Selain itu ia memastikan aktivitas di SATP usai adanya kasus pelecehan seksual itu tidak dihentikan. Hal itu, kata Vebian Magal dikarenakan SATP adalah lembaga pendidikan yang mesti terus berjalan.

“Anak-anak juga sedang bersiap untuk menghadapi ujian nanti, sehingga aspirasi untuk menghentikan pendidikan itu tidak dilakukan,” tutupnya.

Sebelumnya, ia membenarkan sejumlah massa telah datang membawa aspirasi berupa empat tuntutan. Di antaranya penghentian kerjasama YPMAK dengan Yayasan Lokon, pembentukan tim independen untuk mencari fakta lain dalam kasus pelecehan seksual kepada anak, pembentukan tim untuk melaksanakan trauma healing, dan penjatuhan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku. (dcx)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *