oleh

Disdik Akan Buka Sekolah Khusus Kelas VI dan IX

TIMIKA – Membuka sekolah untuk kegiatan belajar mengajar tatap muka menjadi pilihan yang sangat dilema bagi Pemda Mimika. Tapi karena situasi, di mana murid khususnya kelas VI dan IX sedang menghadapi ujian sekolah untuk penentuan kelulusan, maka Dinas Pendidikan Mimika akan memulai belajar tatap muka tapi khusus bagi kelas VI dan IX atau kelas 6 SD dan 3 SMP. Juga Kelas XII atau kelas 3 SMA/SMK yang sudah sementara ujian sekolah.

Keputusan ini merupakan hasil kesepakatan bersama Pemda Mimika dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dalam rapat evaluasi Covid-19 di Hotel Grand Mozza yang dipimpin Bupati Eltinus Omaleng, SE MH didampingi Wakil Bupati Johannes Rettob, SSos MM.

Adapun keputusannya, aktivitas persekolahan dapat dilakukan pembelajaran tatap muka bagi peserta didik kelas VI, IX dan XII yang diatur secara teknis oleh Dinas Pendidikan, dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Jeni Usmany, SPd MPd yang ditemui usai pertemuan mengatakan persiapan sudah dilakukan sejak Bulan Januari 2021. Tapi karena adanya edaran dari Menteri Dalam Negeri yang sanksinya pencopotan kepala daerah, maka belajar tatap muka belum dijalankan.

Menindaklanjuti kesepakatan bersama itu, Jeni Usmany rencananya hari ini mengumpulkan seluruh kepala sekolah untuk persiapan belajar tatap muka di sekolah.

“Kita sosialisasi edaran ini besok (hari ini) berarti lusa mulai belajar tatap muka,” ujarnya.

Kebijakan ini kata Jeni diambil, mengingat peserta didik kelas VI dan IX sedang persiapan ujian sekolah untuk kelulusan. Dengan harapan, murid bisa lebih memahami mata pelajaran setelah belajar tatap muka langsung dengan sekolah.

Meskipun masih dibatasi khusus kelas VI dan IX tapi ditegaskan Jeni, protokol kesehatan akan diperketat. Setiap jam pelajaran jumlah siswa dibatasi. Hanya 50 persen bahkan bisa 30 persen dari total murid dalam satu kelas.

Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, Disdik tetap akan meminta persetujuan orang tua dan menandatangani surat pernyataan. Agar ketika terjadi sesuatu, pemerintah tidak disalahkan. Sebab guru hanya bisa mengawasi di lingkungan sekolah. Tapi setelah itu, murid bisa saja tidak langsung kembali ke rumahnya.

“Orang tua yang memilih tatap muka juga harus tandatangan pernyataan supaya jangan sampai pemerintah disalahkan. Di sekolah pasti terapkan protokol kesehatan. Tapi saat pulang kita tidak temani anak. Bisa saja dari sekolah dia tidak langsung pulang ke rumah, mungkin dia mampir di mana,” tandasnya. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *