oleh

Semua Elemen Masyarakat Puncak Sepakat Tolak Kekerasan

ILAGA – Semua elemen masyarakat baik pemerintah daerah, tokoh masyarakat, perempuan, kepala suku, kepala kampung sepakat untuk menolak kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia, yang akhir-akhir ini  terjadi di Kabupaten Puncak. Sebab mereka menilai kekerasan merupakan aksi yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan, apalagi dilakukan terhadap guru dan anak sekolah generasi penerus Kabupaten Puncak.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan yang dihadiri pemerintah Kabupaten Puncak, TNI/Polri, tokoh agama, masyarakat, suku, pemuda dan perempuan serta ASN, yang dipimpin oleh Bupati Puncak Willem Wandik, SE MSi di aula Negelar, Ilaga, Selasa (20/4).

Dalam pertemuan tersebut hadir juga Kapolres Puncak Kompol I Nyoman Punia, SSos dan juga Dandim Puncak Jaya Letkol Inf Rofi Irwansyah, juga wakil Bupati Puncak Pelinus Balinal serta Ketua DPRD Puncak Lukius Newegalen, SIP.

Ya, situasi di Kabupaten Puncak beberapa hari pasca penembakan pelajar SMAN 1 Ilaga memang berangsur-angsur kondusif. Ini terlihat dari aktifitas ojek sudah mulai mengambil penumpang, bongkar muat barang di Bandara Aminggaru, termasuk aktivitas di Pasar Ilaga juga sudah ramai.

Apalagi Bupati Puncak Willem Wandik sendiri sejak Senin (19/4) sudah melakukan pantauan langsung dengan jalan kaki di dalam Ibu Kota Ilaga, didampingi oleh tim gabungan TNI-Polri guna memberikan rasa aman bagi masyarakat, agar tidak takut dalam beraktivitas.

Terkait dengan pertemuan tersebut, dari semua masukan dan saran, semua menginginkan untuk adanya kedamaian di Kabupaten Puncak. Semua sepakat agar kondisi  segera normal kembali dan mereka mengutuk keras tindakan kekerasan yang dilakukan KKB, terutama pembunuhan terhadap guru dan anak sekolah yang merupakan anak asli Kabupaten Puncak.

Willem Wandik usai pertemuan menjelaskan tujuan digelarnya pertemuan ini, guna menerima masukan atau saran terkait dengan kondisi terakhir di Kabupaten Puncak. Pasalnya peristiswa penembakan guru dan anak sekolah serta pembakaran gedung sekolah merupakan peristiwa yang baru terjadi di Kabupaten Puncak.

Tidak seperti peristiwa selama ini, penembakan guru dan anak sekolah merupakan peristiwa yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), sesuai dengan konvensi Jenewa Swiss, tentang Hak Asasi Manusia.

“Kita duduk bersama, saling diskusi, menyamakan persepsi, bahwa persoaan yang terjadi akhir-akhir ini adalah peristiwa yang tidak manusiawi. Karena dimulai dengan pembunuhan guru, pelajar, sekolah dibakar, dalam konteks UU HAM Jenewa, maka ini bisa disebut pelanggaran HAM. Dan dari diskusi ini semua sepakat untuk menolak kekerasan,” ungkapnya.

Lanjut Bupati, hal yang kedua, pertemuan ini juga guna memberikan informasi kepada masyarakat bahwa pergeseran pasukan TNI-Polri di Ilaga dan Beoga bukan untuk membuat masyarakat takut, namun lebih untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat agar mereka bebas beraktfitas.

“Isu-isu yang beredar ada yang masuk sebagai mata-mata untuk TNI-Polri, lalu mereka dibunuh. Ini cara-cara yang tidak manusiawi. Maka kedepan jangan gunakan cara kekerasan, saya kutuk itu. Kalau ada yang dicurigai, lapor ke saya, biar saya yang urus. Jangan dengan cara-cara kekerasan,” tegasnya.

Bupati juga mengimbau kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga kondisi keamanan di Kabupaten Puncak, sebab keamanan bukan saja tanggung jawab Pemda, TNI/Polri saja, sebab keamanan atau damai itu merupakan tanggung jawab semua pihak.

Sementara itu, saat disinggung soal kondisi terakhir di Distrik Beoga, Bupati mengatakan kondisi di Distrik Beoga sudah berangsur-angsur mulai aman, meski dirinya mengakui masih ada trauma di masyarakat, baik masyarakat pendatang maupun masyarakat asli. Terutama tenaga guru dan tenaga kesehatan, sehingga untuk sementara kegiatan pemerintahan maupun belajar-mengajar, pelayanan kesehatan belum berlangsung normal.

“Memang TNI-Polri sudah amankan kondisi di Beoga, pesawat sudah bisa masuk ke sana. Hanya aktifitas pemerintahan, belajar-mengajar, kesehatan belum normal. Kita harus akui itu, karena pegawai masih trauma, butuh waktu, mereka ini perlu dilakukan trauma healing. Kita harus pastikan dan mampu menyakinkan mereka bahwa kondisi benar-benar aman bagi mereka baru mereka bisa balik. Selama belum ada itu (jaminan keamanan, red) pasti sebagai manusia mereka masih takut,” sebutnya.

Sementara itu, Kapolres Puncak Kompol I Nyoman Punia, SSos mengatakan merespon kondisi terakhir di Ilaga, maka TNI-Polri sudah melakukan patroli bersama khususnya di wilayah Ibu Kota Ilaga, terutama beberapa titik yang berpotensi adanya gangguan keamanan. Termasuk melakukan razia senjata tajam, terutama di Ilaga. Juga di Bandara Aminggaru guna memastikan aktifitas penerbangan, bongkar muat barang berjalan lancar, termasuk razia ke Pasar Ilaga dan ke Kampung Arumaga, lokasi ojek ditembak.

“Patroli rutin kami lakukan, siang, malam, bahkan menjelang pagi guna memastikan kondisi di Kabupaten Puncak ini aman. Terutama di wilayah ibu kota, di wilayah pemerintahan kami gelar patroli bersama dengan TNI. Juga sebagai wujud kekompakan kita menjaga kondisi di Kabupaten Puncak agar tetap aman,” tuturnya.

Sementara itu, Dandim Puncak Jaya Letkol Inf Rofi Irwansyah mengakui adanya pergeseran pasukan. Strategi ini dilakukan guna menjaga sistem keamanan wilayah, terutama di Ilaga dan Beoga.

“Ini semata-mata guna menjaga keamanan di Kabupaten Puncak,” ujar Dandim.(diskominfo puncak/tns)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *