oleh

Tokoh dan Pemuka Agama Papua Sebut Tak Ada Dewan Gereja, Otniel Marini: Papua Cinta Kedamaian, Tidak Ingin Bermusuhan

JAKARTA – Terkait dengan adanya pemberitaan tentang Dewan Gereja di Papua yang mengirimkan surat kepada Komisioner HAM PBB beberapa waktu lalu, beberapa tokoh agama di Papua sendiri belum mengetahui dan mendengar apa yang disebut dengan ‘Dewan Gereja’.

Toko Agama di Papua sangat berharap apa yang terjadi di daerah konflik khususunya di tanah Papua dapat diselesaikan dengan rasa persaudaraan dan kekeluargaan.

Beberapa tokoh dan pemuka agama diantaranya Pdt. Jerry Rahakbauw dari GPKAI, Pdt Otniel Marini dari GPDP, Pdt Joop Suebu dari PGGJ dan Pdt George Sorontou dari GKN Papua, Jumat (23/4) mengaku tidak mengetahui tentang keberadaan apa yang disebutnya ‘Dewan Gereja’. Mereka hingga saat ini tidak mengetahui dan mendengar soal adanya ‘Dewan Gereja’.

Para tokoh dan pemuka agama di Papua secara aktif terus mengadakan pertemuan dan diskusi dengan para pimpinan daerah seperti Gubernur, Kapolda, Pangdam dan stakeholder yang ada di Papua.

“Saya belum mengetahui tentang adanya ‘Dewan Gereja Papua’, yang kami lakukan terakhir ini adalah menjalin komunikasi dengan aparat pemerintah seperti Kapolda Papua, Pangdam dan aparat pemerintah lainnya,” ujar Pendeta Jerry Rahakbauw.

Bagi keempat tokoh dan pemuka agama itu, mereka sangat menyayangkan bila ada pemuka agama yang melakukan politik praktis untuk menghasut, membanngun sentimen negatif kepada umat atau jemaatnya yang dapat membuat runtuhnya persatuan dan persaudaraan di masyarakat Papua.

“Memang dalam Alkitab diperbolehkan untuk berpolitik, tetapi politik yang damai, politik untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat dan membangun Papua ke masa depan,” lanjutnya.

Pendeta Joop Suebu juga mengatakan, tidak ada politik praktis di Gereja, karena Gereja memang murni untuk beribadat.

“Intinya kita semua beribadah di Gereja, tidak membahas hal-hal lain yang dapat menimbulkan kecemasan jemaat,” tegas Pendeta Joop Suebu.

“Kalau ada tokoh atau pemuka agama yang melakukan hal-hal yang bertentangan dan dilakukan di luar Gereja, itu sah-sah saja, tapi mereka punya tanggung jawab sendiri-sendiri,” sambungnya.

Menurutnya, selama para tokoh dan pemuka agama menyampaikan ajaran dan kasih dengan hati seperti yang ada di Alkitab, mereka meyakini tidak akan ada agama dijadikan alat politik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *