oleh

BTM Akan Polisikan Bendahara Panpel

JAYAPURA – Ketua Umum Persipura, Benhur Tomi Mano atau yang akrab disapa BTM mewanti Panpel Persipura untuk segera mempertanggungjawabkan laporan keuangan selama satu musim kompetisi tahun 2017 kemarin.

  Pasalnya hingga Rabu (24/1) kemarin pihaknya belum diberikan laporan pertanggungjawaban keuangan yang seharusnya sudah diterima jauh-jauh hari.  “Sampai sekarang saya sudah meminta berulang kali. Mereka (Panpel) harus jelaskan penggunaan dana selama 1 kompetisi kemarin, sebab bendaharanya lagi kabur, ” kata Tomi Mano di ruang kerjanya kemarin.

   “Saya akan membuat laporan Polisi soal ini, sebab semuanya belum dipertanggungjawabkan. Bendaharanya tidak tau kemana,” tambahnya.

Menurut BTM,  seharusnya laporan pertanggungjawaban itu sudah diterima setelah kompetisi selesai. Paling tidak seminggu setelah kompetisi berakhir, Panpel sudah memasukkan surat pertanggungjawaban. “Tapi sampai sekarang kami masih menunggu,” bebernya.

  BTM juga menyampaikan bahwa besar kemungkinan dari kondisi tersebut ia akan melakukan perombakan terhadap struktur Panpel mengingat yang dibutuhkan adalah pengurus yang siap memajukan Persipura dari segi penonton.

   “Harusnya tiap hasil pertandingan itu langsung kami masukkan ke Bank Papua agar ada debit yang tersimpan,” pungkasnya.

  Sementara itu, Ketua Panpel Persipura Mathias Mano saat dicoba konfirmasi Cenderawasih Pos, nampaknya masih enggan untuk berkomentar, dan memilih untuk berkoordinasi dulu dengan BTM.

  Sementara itu, terkait persiapan finansial bagi Tim Persipura untuk mengarungi musim kompetisi Liga Indonesia tahun 2018 ini, Ketua Umum Persipura, Benhur Tomi Mano mengaku kurang setuju dilakukan penggalangan dana secara sukarela yang dilakukan masyarakat.

  Ia memonitor belakangan ini muncul di tengah masyarakat aspirasi lahirnya misi penyelamatan Persipura yang tengah membutuhkan dana yang cukup besar dalam mengarungi kompetisi tahun 2018. Ia memberi apresiasi atas semua niat membantu Persipura dan respect namun BTM kurang setuju dengan niat tersebut.

   Ia khawatir ada beban moril yang cukup besar dan akhirnya dampaknya justru akan mengganggu suasana internal tim. Maksudnya disini adalah jangan sampai ekspektasi masyarakat tak sampai dan akhirnya mucul komplain sana sini karena sudah ikut nyumbang.    

   “Kalau tim kalah di kandang saja itu saya malu sekali sama Freeport dan Bank Papua. Nah apalagi jika masyarakat juga sudah ikut nyumbang dengan tujuan membantu. Ini kalau kalah saya bisa dimaki habis dan protesnya itu bisa berlarut-larut,” kata BTM di ruang kerjanya, Rabu (24/1) kemarin.

    Protes ini jika masih disampaikan secara wajar menurutnya tak masalah, yang masalah ketika pemain juga mendengar dan ikut terganggu akhirnya berdampak pada kenyamanan tim pemain dalam club. Namun kata Tomi Mano jika ada pengusaha yang mau menyumbang, ia mempersilahkan.

   “Mungkin lebih baik jika ada pengusaha yang ingin  menyumbang bisa langsung memasukkan ke rekening Persipura di Bank Papua agar jelas penggunaannya. Jangan karena kalah dan sudah menyumbang kemudian memprotes managemen di media sosial. Ini efeknya lebih buruk,” terangnya.

    Jadi bentuk sumbangan sukarela yang dilakukan dengan membuka rekening sekalipun diinisiasi oleh suporter BTM tetap kurang setuju. “Kita menjaga saja, yang jelas kami juga tak tinggal diam melihat tim seperti ini. Kami akan mengakali bagaimana agar tim bisa tetap berlaga, mungkin dengan menghemat. Jika dulu tidurnya di hotel bintang 5 kini mungkin cukup di hotel bintang 3 untuk penghematan tadi dan kami harap pemain juga bisa memahami ini. Kita berjuang sama-sama untuk mewujudkan mimpi Persipura bisa berlaga dan berprestasi,” pungkasnya. (ade/tri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *