oleh

Willem Wandik Kembali Damaikan Perang Saudara di Beoga Barat

“Kita sudah trauma lama soal perang saudara atau angkat panah di Puncak, karena dampaknya besar sekali, nyawa, harta benda akan hilang, sehingga begitu kami dengar ada terjadi kejadian angkat panah di Beoga, kami langsung turun dan berusaha mendamaikan. Beruntung keberadaan kami mampu mendamaikan mereka, meski sempat sudah terlibat dalam perang saudara,” sebut Bupati Puncak, Willem Wandik.

Kata Bupati, perang merupakan budaya Pegunungan Tengah khususnya di Puncak, dan ketika panah sudah diangkat, maka melibatkan banyak orang, korban akan berjatuhan diantara kedua belah pihak.

Meski dianggap sebagai budaya, namun sebenarnya sangat merugikan karena kedua belah pihak bisa menjadi korban nyawa harta benda, dan khususnya di Puncak, punya pengalaman yang cukup besar sampai saat ini. Sehingga dengan pengalaman itu, dirinya berusaha untuk cepat tanggap dengan situasi, apalagi dirinya merupakan anak asli yang tahu akan budaya, sehingga mampu untuk mendamaikan perang saudara ini.

“Kami sudah trauma sekali dengan perang di Kabupaten Puncak, jadi kami berusaha turun ke kedua belah pihak, dan beruntung Tuhan bersama kami sehingga mampu menyelesaikan persoalan kedua belah pihak,” tambahnya.

Willem Wandik berharap, agar jangan lagi ada kelanjutan pertikaian dari kedua belah pihak, apalagi Bulan April sudah dekat, ada pesta demokrasi Pilpres maupun Pileg, jangan ada kejadian yang nantinya membuat suasana di Puncak menjadi tidak damai.

“Kami sama-sama jaga kondisi kedamaian di Puncak, masyarakat harus terbiasa untuk mengikuti hukum positif, stop dengan angkat panah, yang rugi adalah masyarakat sendiri, kita sama-sama jaga kedamaian menjelang Pilpres dan Pileg Bulan April,” ajaknya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *