oleh

Dirancang Berkelas Internasional, Pesparawi Butuh Dana Rp 60 Miliar

TIMIKA – Tidak hanya menjadi tuan rumah PON XX, pada Tahun 2020 mendatang, Kabupaten Mimika juga menjadi tuan rumah Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) se-Tanah Papua. Pesparawi rencananya digelar lebih awal yakni 12-20 Juni 2020.

Setahun jelang pelaksanaan, panitia rutin menggelar rapat untuk melakukan evaluasi sekaligus mematangkan persiapan. Meskipun hanya lingkup Papua dan Papua Barat tapi, Pesparawi mendatang dirancang untuk go international. Biaya yang dibutuhkan tidak sedikit yakni mencapai Rp 60 miliar.

Ketua Panitia Pesparawi, John Rettob kepada wartawan usai rapat di Grand Tembaga Hotel, Senin (8/7) lalu mengatakan pada Bulan September nanti ada pra technical meeting. Sehingga akomodasi, konsumsi dan transportasi sudah harus disiapkan.

Secara keseluruhan ada 42 kabupaten/kota yang akan ikut serta bahkan saat ini sudah mulai berlatih. Pesertanya diprediksi mencapai 12 ribu orang untuk mengikuti 12 mata lomba ditambah tamu sekitar 1.000 atau 2.000 orang. Tidak hanya lomba saja tapi sekaligus musyawarah daerah penentuan tuan rumah Pesparawi berikutnya, workshop tentang bagaimana menciptakan lagu serta seminar tentang music gerejawi. “Ajang pesparawi ini sebenarnya untuk menyiapkan tim Papua dan Papua Barat untuk Pesparawi tingkat nasional di Jogja Tahun 2021,” ujar John Rettob.

Even ini dikatakan John Rettob, sekaligus ajang promosi daerah. Sehingga peran Pemerintah Daerah sangat besar sebagai bentuk pembinaan terhadap gereja. Jadi dana harus dibantu penuh baik oleh pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat. Sharing pendanaan sudah disiapkan seperti juri yang rencananya didatangkan dari Amerika dan Swiss akan ditanggung oleh Pemprov termasuk akomodasi selama di Timika.

Mimika sebagai tuan rumah menyiapkan akomodasi dan transportasi. Tapi tidak hanya itu, suasana kota yang bersih, indah, aman, tertib dan kesiapan masyarakat serta UKM dan wisatanya juga harus dimatangkan.

Panitia akan mengundang Presiden Joko Widodo untuk hadir dan membuka secara langsung. Hal ini sudah dilaporkan ke Gubernur. Bahkan surat undangan ke Istana akan dilayangkan setelah pelantikan Oktober mendatang. “Kita harap Presiden penuhi janjinya mau buka Pesparawi di Papua,” ujar John Rettob.

Dari sisi kesiapan akomodasi, panitia sudah melakukan survey. Akomodasi bagi peserta harus gratis dan bisa menampung 12 ribu orang. Fasilitas penunjang seperti toilet, air bersih, lingkungan bersih dan akses jalan harus bersih.

Beberapa tempat penginapan sudah disurvey dan direkomendasikan. Seperti Asrama Taruna Papua yang bisa menampung 5-6 kontingen, Sentra Pendidikan menampung 10-11 kontingen meskipun harus dibenahi dan butuh anggaran besar. Kantor Dinas Kehutanan, Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, rumah susun, SMP Negeri 10, MPCC, Asrama Solus Populi, SD Inpres SP 1, SMP YPPK St Bernardus dan SMK Petra.

Lokasi lomba yang tidak bisa ditentukan sendiri sehingga harus meminta ahli untuk menentukan ruangan yang bisa digunakan. Untuk sementara ada lima tempat yaitu Gedung Tongkonan IKT, GKI Marten Luther, GKI Diaspora, Graha Eme Neme Yauware dan GBI Rock. Tapi masih banyak yang harus dibenahi seperti toilet, parkir.

Yang membutuhkan anggaran cukup besar diungkapkan John adalah saat acara pembukaan dan penutupan. Apalagi acaranya dirancang bisa go international mengingat Pesparawi Tanah Papua dianggap sebagai acara nasional.

Dibutuhkan peralatan seperti lighting, sound system dan lainnya yang harus dipakai selama 8 hari sampai 2 minggu. “Jadi kalau ditanya berapa biaya keseluruhan, untuk sewa alat saja sound system, lighting, laser dan segala macam Rp 15 miliar,” terangnya.

Termasuk juga pembelian piano yang harganya Rp 300 juta per buah. Jadi perhitungan panitia, Pesparawi bisa menghabiskan anggaran sekitar Rp 60 miliar mulai dari rehab fasilitas sampai acara dan selesainya kegiatan.(sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *