oleh

Proses Adat Belah Kayu Di Ilaga Utara, Pertanda Angkat Panah Berakhir

“Saya imbau lagi, warga hentikan menyelesaikan persoalan dengan angkat panah (perang, red). Alangkah baiknya kita terlibat dalam proses pembangunan yang gencar dilakukan di Kabupaten Puncak. Apalagi saat ini pemerintah pusat banyak penaruh perhatian ke Papua, termasuk program ke kampung-kampung. Jika kalian terus hidup dalam konflik, kapan baru daerah ini maju,” tegasnya.

“Satu nyawa orang Papua itu sangat berharga. Hitam dan keriting rambut ini, merupakan ciptaan Tuhan yang sangat mulia. Apalagi negeri kita ini kaya. Jika kita tidak bersyukur dan hidup baik, maka kekayaan kita ini akan dinikmati oleh orang lain, sehingga saya mengajak kita untuk berhenti angkat panah, marilah kita hidup damai, agar umur panjang dan menikmati pembangunan di negeri yang kaya akan alamnya ini,” ajaknya.

Di tempat yang sama, Yakob Labena, mewakili keluarga korban menyambut baik langkah dari Bupati Puncak, yang tak henti-henti memfasilitasi proses perdamaian. Dirinya berharap agar keluarganya menghormati tahapan adat ini, berhenti angkat panah lagi. Sebab dampak dari angkat panah ini menyebabkan jatuh korban antara kedua belah pihak. Belum lagi biaya besar yang dikeluarkan oleh pemerintah hanya untuk prosesi adat. Sementara anak dan istri kehilangan suami, kehilangan saudara, jatuh korban hanya gara-gara pertikaian saudara ini.

Katanya, alangkah baiknya kedua belah pihak berdamai, dan terlibat dalam proses pembangunan yang sementara dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Puncak.

“Sebenarnya kedua belah pihak ini keluarga dekat saja, namun itulah budaya kita di gunung, selalu menggunakan cara angkat panah dalam menyelesaikan masalah. Dampaknya adalah banyak yang meninggal dunia. Sehingga dengan tahapan perdamaian belah kayu ini, maka jangan ada lagi perang antara kedua belah pihak. Jika ada yang angkat panah, maka mau tidak mau itu dia tanggung jawab sendiri, polisi tangkap saja dan tahan. Jangan karena dia membuat banyak warga jadi korban,” tegas anggota DPRD Intan Jaya ini.

Sementara itu, Kapolres Puncak Jaya, AKBP Ari Purwanto mengatakan, sikap Polres sebagai aparat penegak hukum tetap menghormati proses adat, karena ini budaya orang di Pegunungan Tengah Papua. Meski begitu, polisi akan tetap memberikan pembelajaran hukum kepada masyarakat, dimana meski ada proses adat, namun masyarakat juga harus mengerti bahwa ini negara hukum, sehingga ada konsekuensi hukum yang harus mereka laksanakan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *