oleh

Proses Adat Belah Kayu Di Ilaga Utara, Pertanda Angkat Panah Berakhir

“Artinya sudah ada penanda tanganan surat pernyataan antara perwakilan dari kedua kelompok yang bertikai di atas meterai. Ini menandakan ada konsekuensi hukum di kemudian hari yang akan mereka dapat jika melanggar pernyataan ini,” ungkapnya.

“Selaku penegak hukum kami akan terus kawal proses ini, sampai benar-benar kondisi di Puncak ini benar-benar aman dan damai. Kedua belah pihak sudah berjanji untuk damai. Yang bagusnya, dimana kedua belah pihak sudah berjanji siapa yang memunculkan kembali pesoalan ini, maka provokator atau pelakunya akan diproses hukum, kita akan pegang atas pernyataan ini,” tambahnya.

Sementara mewakili gereja Kingmi di Tanah Papua, yang merupakan mayoritas di daerah tersebut, yakni Pdt Silas Mom, STh, mengatakan dampak dari pertikaian saudara ini telah menyebabkan jatuh korban di anggota jemaatnya. Terutama di dalam jemaat di Kampung Mayuberi dan Olelki.

“Tuhan sebenarnya tidak mau sekali yang namanya saling membenci, apalagi saling membunuh. Kami pihak gereja sangat menyesal sekali, kami punya jemaat bagi dua, dan sama-sama jatuh korban. Tuhan sangat marah sekali. Meski begitu kami bersyukur pada Tuhan, karena melalui hambanya Bupati Puncak, yang merupakan anak gereja, benar-benar menaruh perhatian untuk mendamaikan kedua belah pihak,” tukasnya.

“Oleh sebab itu, dari gereja kami berharap, agar kesepakatan perdamaian secara adat ini harus dipegang oleh kedua belah pihak, agar kondisi di Puncak damai kembali. Sebab akan ada program besar dari gereja Kingmi di Tanah Papua, dimana Kabupaten Puncak akan jadi tuan rumah konferensi gereja Kingmi 2020. Jemaat perlu siap diri menyambut event gereja ini dengan hati damai dan gembira,” ajak lelaki yang juga menjabat sebagai Sekretaris Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua ini.(diskominfo puncak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *