oleh

Hari Bakti PU ke-74, Satker PJN VI Timika Gelar Bakti Sosial

TIMIKA – Dalam rangka memperingati Hari Bakti Pekerjaan Umum ke-74 yang jatuh pada 3 Desember 2019, Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional XXII Merauke Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah VI Timika tidak menggelar kegiatan khusus.

Untuk memperingati hari gugurnya 21 orang pegawai yang bertugas menjaga Gedung Sate di Bantung yang saat itu merupakan gedung Departemen Pekerjaan Umum menghadapi serangan pasukan sekutu, Satker PJN VI Timika melakukan bakti sosial dengan mengunjungi Yayasan Panti Asuhan Tunas Bangsa Imanuel (Yapatbi) yang ada di Kelurahan Karang Senang (SP 3), Selasa (3/12).

Para pegawai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu memberikan bantuan kepada anak-anak yang ada di panti asuhan. Selain itu, pihak Satker juga menggelar perlombaan internal yang melibatkan para pegawai dan anak-anak di sekitar Kantor Satker yang berada di SP 3.

Secara terpisah Kepala Satker PJN VI Timika, Adrian Paranoan juga mengikuti peringatan Hari Bakti PU yang dipusatkan di Jayapura dan dihadiri oleh Wakil Menteri PUPR, John Wempi Wetipo dalam bentuk upacara, jalan santai dan pameran pembangunan.

Perwakilan Satker PJN VI Timika, Rudolof Meraudje yang mengkoordinir para pegawai berkunjung ke panti asuhan mengatakan lewat peringatan Hari Bakti PU pihaknya ingin menunjukkan kepedulian kepada sesama dengan menggelar bakti sosial di panti asuhan. Disamping rutinitas setiap hari dalam menjalankan pekerjaan membangun jalan dan jembatan Trans Papua mulai dari Timika-Pomako-Logpon-Mayon-Wagete. “Semua staf datang, kami jalankan tugas kemanusiaan,” katanya.

Kedatangan pegawai Kementerian PUPR itu disambut baik pihak yayasan. Ketua Yayasan, Pdt Onimus Makahanap mengatakan selama ini yayasan belum banyak tersentuh. Sehingga ia sangat bersyukur dengan adanya kunjungan dari Satker PJN VI Timika.

Yapatbi sendiri adalah yayasan yang membina anak-anak dari berbagai suku. Mereka difasilitasi untuk mendapatkan pendidikan dan dibina agar tidak terjerumus dalam pergaulan. “Kami bawa supaya dididik agar menjadi anak yang berguna bagi bangsa. Jadi kami ingin selamatkan anak-anak,” katanya.

Anak-anak yang dibina sekarang ini merupakan gelombang kedua. Ada 12 orang anak termasuk salah seorang bayi. Ada yang SMP dan SMK. Gelombang pertama kata Onimus sudah banyak yang berhasil menuntaskan pendidikan. Lulus SMK keudian kembali ke Wamena bekerja bahkan ada yang menjadi hamba Tuhan.

Onimus mengatakan, yayasan selama ini berjalan dari bantuan masyarakat belum ada sentuhan dari pemerintah. Sehingga pihak yayasan melangkah apa adanya. “Kami berharap bisa menampung lebih banyak anak lagi, tapi karena kondisi terbatas. Padahal banyak anak-anak yang butuh pertolongan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa yayasan itu legal atau resmi karena mendapat izin lengkap sampai di Kementerian Sosial. Dari Dinas Sosial Mimika juga sudah datang melihat kondisi yayasan. Salah satu hal yang dibutuhkan yayasan juga adalah penyelesaian pembangunan gedung gereja. Karena selama ini anak-anak harus ke kota beribadah mengingat gedung gereja belum selesai dan masih sementara dibangun.(sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *