oleh

PDP Gejala Ringan dan ODP Mulai Diisolasi

TIMIKA – Setelah hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan dua pasien positif Covid-19, Dinas Kesehatan langsung melakukan tracing contact. Dari hasil tracing itu, dilakukan isolasi bagi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) gejala ringan, Orang Dalam Pengawasan (ODP) dan Orang Tanpa Gejala (OTG).

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19, Reynold Ubra ketika ditemui Radar Timika di MPCC YPMAK, Senin (30/3), mengatakan pemerintah telah menyiapkan tempat yang sangat representasi dan sangat layak. Tim medis yang bertugas 1×24 jam didukung fasilitas sarana prasarana yang memadai.

“Di sana kami tempatkan PDP dengan gejala ringan, ODP serta orang tanpa gejala,” katanya.

Sampai siang kemarin, sedikitnya sudah ada 10 orang yang masuk dalam kategori PDP gejala ringan, ODP dan OTG sudah mulai menjalani isolasi. Rumah susun yang dimanfaatkan sebagai shelter memiliki 80 kamar. Satu kamar bisa ditempati oleh 4 orang. Berarti sekitar 320 orang bisa ditempatkan untuk menjalani masa isolasi.

Tim tetap melakukan pendekatan secara persuasif agar orang-orang yang pernah kontak dengan pasien yang terinfekasi bisa mengikuti atau mendukung langkah yang sudah disiapkan pemerintah. Isolasi ini dilakukan untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Sesuai dengan empat pendekatan penanggulangan Covid-19 yakni deteksi, tracing, treatment dan isolasi.

Pemerintah kata dia, menyiapkan tempat isolasi untuk menjaga supaya tidak terjadi stigma dan diskriminasi. Memastikan bahwa penduduk yang terpapar betul-betul patuh dan disiplin. Ini juga bagian dari social distancing.

“Artinya bahwa setelah orang-orang yang terpapar dengan pasien atau kasus Covid-19 ini dalam beberapa hari kita pantau, jika tidak menunjukkan gejala apapun maka sudah bisa kembali pulang dan Dinkes akan mengeluarkan surat pernyataan bahwa mereka itu sehat,” jelasnya.

Reynold menegaskan, tidak semua pasien termasuk PDP sekalipun harus dilakukan pemeriksaan swab dan dikirim ke Balitbang Kemenkes. Ada kriteria tertentu, apalagi jika PDP mengalami gejala ringan. Mereka bisa menjalani isolasi mandiri baik di rumah maupun tempat yang disiapkan oleh pemerintah. Itu sebagai cara mengurangi dampak buruk termasuk angka kesakitan dan kematian dari orang yang mengidap Covid-19.

“Pada kasus berat seperti pneumonia itu kita lakukan pemeriksaan terutama untuk isolasi di rumah sakit rujukan,” tandasnya.

Memang diakui Reynold, banyak yang bertanya apakah rumah sakit cukup. Di dunia hampir semua rumah sakit tidak cukup. Bukan karena hanya tempat tidur dan tenaga, tapi karena lama perawatan. Dimana masa isolasi membutuhkan waktu 14 hari plus 5 hari. Jadi sekitar 20 sampai 25 hari. Jika hari terakhir dinyatakan negative dengan dua kali pemeriksaan berturut-turut baru pasien bisa keluar.(sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *