oleh

Stop Stigma Sosial Covid-19

TIMIKA– Mungkin ada hal yang kita lupakan bahwa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) muncul,  maka akan muncul juga stigma sosial di tengah masyarakat. Nah di sinilah dibutuhkan peran individu, kelompok atau lembaga untuk bisa mencegah ini agar stigma negatif itu tidak terjadi.

Di tengah wabah COVID-19, muncul satu fenomena sosial yang berpotensi memperparah situasi, yakni stigma sosial atau asosiasi negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang yang mengalami gejala atau menyandang penyakit tertentu. Mereka diberikan label, stereotip, didiskriminasi, diperlakukan berbeda, dan atau mengalami pelecehan status karena terasosiasi dengan sebuah penyakit.

Hal itu diungkapkan oleh salah satu pengamat kesehatan, H Achmad Yani, SE MMKes dalam press releasenya yang diterima Radar Timika, Minggu (12/4).

Disebutkan Achmad, sebagai penyakit baru, banyak yang belum diketahui tentang pandemi COVID-19. Terlebih manusia cenderung takut pada sesuatu yang belum diketahui, dan lebih mudah menghubungkan rasa takut pada “kelompok yang berbeda atau lain”.

“Inilah yang menyebabkan munculnya stigma sosial dan diskriminasi terhadap etnis tertentu, dan juga orang yang dianggap mempunyai hubungan dengan virus ini,”ujar Achmad.

Menurutnya, perasaan bingung, cemas, dan takut yang kita rasakan dapat dipahami, tapi bukan berarti kita boleh berprasangka buruk pada penderita, perawat, keluarga, ataupun mereka yang tidak sakit tapi memiliki gejala yang mirip dengan Covid-19.

Lanjutnya, jika terus terpelihara di masyarakat, stigma sosial dapat membuat orang-orang menyembunyikan sakitnya supaya tidak didiskriminasi, mencegah mereka mencari bantuan kesehatan dengan segera, dan membuat mereka tidak menjalankan perilaku hidup yang sehat.

Dari pada menunjukkan stigma sosial, menurutnya, alangkah lebih bijak jika kita berkontribusi secara sosial. Pertama, membangun rasa percaya pada layanan dan saran kesehatan yang bisa diandalkan.  Kedua, dengan  menunjukkan empati terhadap mereka yang terdampak. Ketiga, memahami wabah itu sendiri serta keempat dengan melakukan upaya yang praktis dan efektif, sehingga orang bisa menjaga keselamatan diri dan orang yang mereka cintai.

Diungkapkannya, pemerintah, media, influencer, dan komunitas memiliki peran penting dalam mencegah dan menghentikan stigma di sekitar kita.

“Kita semua harus berhati-hati dan bijaksana, ketika berkomunikasi di media sosial dan wadah komunikasi lainnya,” jelasnya.

Lanjutnya, para influencer, pemimpin agama, pejabat publik dan tokoh masyarakat dapat memperkuat pesan yang mengurangi stigma, mengundang khalayak untuk merenung, dan berempati pada orang-orang yang terstigma, dan mengumpulkan gagasan untuk mendukung mereka.

“Stigma sosial bisa terjadi akibat kurangnya pengetahuan tentang covid-19 (bagaimana penyakit ditularkan dan cara mencegah infeksi). Yang paling penting untuk dilakukan adalah, penyebaran informasi yang akurat dan sesuai dengan komunitas tentang daerah yang terkena, kerentanan individu dan kelompok terhadap COVID-19, opsi perawatan. Di mana masyarakat dapat mengakses perawatan dan informasi kesehatan, dengan gunakan bahasa sederhana dan muda di pahami,”pungkasnya. (ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *