oleh

Tembagapura Kini Alami Transmisi Lokal

TIMIKA – Sejumlah penambahan kasus positif Covid-19 di Mimika dalam beberapa hari terakhir didominasi dari laporan RS Tembagapura. Termasuk dua kasus yang baru diumumkan, Kamis (23/4) kemarin hingga menambah total kasus di Mimika jadi 41 kasus, adalah pasien yang dirawat di RS Tembagapura.

Adapun kasus baru yakni pasien 040 inisial YBK, laki-laki usia 51 tahun alamat Tembagapura. Pasien 041 inisial AKP, laki-laki usia 40 tahun alamat Tembagapura. “Dengan penambahan dua kasus ini maka jumlah Covid-19 yang terkonfirmasi laboratorium mencapai 41 kasus,” ungkap Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Mimika, Reynold Ubra kepada wartawan melalui video conference, Kamis (23/4).

Untuk kasus Tembagapura dikatakan Reynold, Dinkes Mimika belum duduk bersama tim Penyelidikan Epidemiologi untuk menentukan sumber penularan atau berapa klaster. Apakah kasus yang dinyatakan positif merupakan kasus impor atau bagian kasus infeksi di Kota Timika.

Tapi intinya menurut Reynold, kasus Tembagapura dan Timika tidak bisa dipisahkan karena merupakan satu rangkaian intervensi yang harus dilakukan bersama. Sebab wabah ini saling berkaitan terutama wilayah. “Di Tembagapura, dari hari ke hari, kami selalu melaporkan ada PDP, ODP dan OTG sudah pasti sudah terjadi transmisi lokal di wilayah Tembagapura,” tandas Reynold.

Meskipun penanganan kasus di Tembagapura secara spesifik dilakukan oleh manajemen PT Freeport Indonesia bersama gugus tugas tingkat distrik, tapi langkah-langkah penyelidikan epidemiologi juga dilakukan oleh Public Health and Malaria Control (PHMC) sama halnya yang dilakukan Dinkes Mimika. Setelah menemukan kasus, dilakukan pencarian kontak.

Menurut Reynold, kasus Tembagapura perlu membutuhkan perhatian serius karena wilayah yang memiliki kelembapan cukup tinggi dan sangat memungkinkan virus bertahan lama dalam tubuh bahkan di tempat yang sudah terkontaminasi. Berbeda dengan wilayah kota dengan suhu yang terbilang panas. Yang pasti, kasus Tembagapura sudah menjadi bahan diskusi tim Gugus Tugas Pemda Mimika terkait bagaimana respon cepat supaya jumlah kasus tidak bertambah dan penyebaran bisa diselesaikan.

Dalam pengendalian Covid-19, ada lima pendekatan yang dilakukan oleh gugus tugas. Dimulai dari deteksi, penjaringan kasus menurut tanda dan gejala serta riwayat kontak. Setelah ditetapkan status, maka langkah selanjutnya dilakukan pengobatan. Selanjutnya tracing kontak. Dilakukan pemeriksaan dan terakhir adalah isolasi.

Pendekatan ini juga dilakukan oleh RS Tembagapura. Termasuk isolasi bagi semua PDP, ODP dan OTG serta tidak bekerja. Dilakukan pemantauan selama 14 hari. “Di wilayah Tembagapura isolasi bagi mereka yang kasus positif atau status. Karantina sehat bagi karyawan yang masih dinyatakan sehat atau tidak pernah kontak dengan kasus maupun status,” terang Reynold.

Untuk mengantisipasi terjadinya penyebaran virus yang lebih meluas, Dinkes Mimika sudah berdikusi dengan tim Tembagapura mengenai beberapa langkah. Yang sudah dilakukan adalah penawaran cuti sukarela serta bekerja dari rumah. Ada juga langkah teknis karena akan didiskusikan dengan manajemen PT Freeport Indonesia.

“Yang bekerja di sana adalah WNI, penduduk Mimika sehingga Pemda Mimika sangat serius perhatikan keselamatan. Hal mendasar yang dipikirkan, agar tidak terinfeksi, PTFI berkomitmen bagaimana kendalikan penyebaran termasuk melindungi karyawan. Yang sudah terinfeksi, atau diduga terinfeksi tetap diisolasi untuk putus rantai penularan,” jelas Reynold.

Pemda Mimika ditegaskan Reynold, tetap bertanggungjawab terhadap seluruh upaya yang dilakukan termasuk oleh RS Tembagapura dengan menunjang sarana dan prasarana di fasilitas kesehatan. Pemda Mimika berkolaborasi dengan RS Tembagapura dalam hal penyediaan obat, testing baik tes cepat maupun PCR swab, pengadaan bahan medis habis pakai yang disuplai oleh Pemda Mimika melalui Dinkes.

Stok rapid test untuk pemeriksaan dini oleh RS Tembagapura juga cukup banyak, sekitar 1.000. Pemeriksaan massal dilakukan mulai dari lowland sampai highland. Yang positif dilanjutkan untuk pemeriksaan PCR. “Langkah-langkah ini baik. Kami pikir, bongkar kasus lebih penting daripada menyembunyikan,” tandas Reynold.

Reynold meminta warga Mimika tidak mengalihkan perhatian pada kasus di Tembagapura karena di Kota Timika sendiri penyebaran masih berlangsung dan sangat cepat karena pergerakan masyarakat sangat tinggi. Termasuk dari dua klaster yakni Lembang dan Surabaya yang sudah memasuki generasi kedua.

Malahan distrik pesisir dikhawatirkan bisa menimbulkan kasus karena masih ada pergerakan orang keluar masuk. Padahal arahan Bupati dan Wabup agar masyarakat di pesisir dan gunung tidak ke Timika sampai wabah berakhir. Begitu juga sebaliknya, siapapun tidak boleh ke pesisir dan gunung. Tapi faktanya sampai sekarang masih sangat tinggi.

Klaster Surabaya ditambahkan Reynold, diprediksi masih sangat panjang. Dalam kurun waktu dua minggu sudah melahirkan 7 orang terinfeksi. Tracing kontak hampir sama dengan Klaster Lembang yang sudah mencapai 300 bahkan lebih kontak. “Langkah dini yang kami lakukan, semua orang yang pernah kontak dengan Klaster Surabaya dan Lembang atau generasi pertama akan kami kumpulkan untuk rapid test,” ujar Reynold. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *