oleh

Pra New Normal, Pedagang Masih Mengeluh Sepi Pembeli

TIMIKA – Meski pemerintah daerah telah memberi kelonggaran terhadap aktivitas masyarakat, nyatanya tidak membawa perubahan yang signifikan terhadap omzet para pedagang di Pasar Sentral Timika. Sebagai besar pedagang yang ditemui Radar Timika, Minggu (7/6) mengaku awalnya senang dengan perubahan batas waktu aktivitas yang diberlakukan pemerintah sejak tanggal 5 Juni lalu. Pasalnya para pedagang beranggapan dengan perubahan tersebut maka pembeli akan kembali meningkat. Namun nyatanya hal tersebut sama saja, suasana pasar masih belum normal begitu pun dengan omzet yang mereka dapat setiap harinya.

Seperti halnya Laras (27), pedagang kosmetik mengaku masih sepi pembeli. Ia mengatakan pra new normal yang diberlakukan pemerintah tidak berdampak terhadap pendapatan. Sejak pemberlakukan pembatasan sosial hingga saat ini omzetnya mengalami penurunan hingga 40 persen.

“Sebelumnya itu saya bisa dapat Rp 800 ribu, tapi sekarang yah bisa sampai Rp 500 ribu atau Rp 200 ribu saja setiap hari, karena pembeli sekarang sangat sedikit. Yang sebelumnya sampai jam 2 dan yang sekarang sampai jam 5 tetap sama saja,” ungkap Laras.

Sementara Hamza yang merupakan pedagang daging sapi dan ayam beku juga mengatakan hal yang sama, yakni bahwa hingga pemberlakukan pra new normal tidak memberi pengaruh terhadap omzet para pedagang yang semakin hari semakin berkurang karena kurangnya pembeli.

“Mungkin masyarakat semakin takut ke pasar, karena kan disini jaga jarak sangat sulit, belum lagi pasien positif Covid-19 terus bertambah setiap hari. Padahal harga ayam dan sapi tidak naik, masih tetap ayam Rp 33 ribu dan daging sapi Rp 90 ribu,” katanya.

Penurunan omzet karena kurangnya pembeli juga dialami Aco, pedagang pakaian yang mengalami penurunan omzet hingga 50 persen. Menurutnya, pemberlakuan pra new normal tidak memberi dampak karena rasa takut masyarakat terhadap Covid-19, dan juga karena keadaan ekonomi masyarakat yang tidak lagi seperti dulu.

“Seperti lebaran kemarin itu juga daya beli baju lebaran sangat kurang, karena lebaran tidak seperti tahun lalu dan juga karena keuangan tidak lagi seperti dulu. Sekarang ada yang mulai dikurangi gajinya dan bahkan di-PHK,” tutupnya.(ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *