oleh

Masih Banyak yang Melanggar Protokol Kesehatan

TIMIKA – Masa pra normal baru sudah diterapkan selama seminggu. Ini merupakan masa transisi sekaligus uji coba menuju normal baru. Tapi meskipun sudah seminggu diterapkan, nyatanya masih banyak ditemukan pelanggaran terhadap protokol kesehatan.

Hal ini juga diakui Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika. Asisten Bidang Administrasi Umum, Nicolaas Kuahaty ketika ditemui di Hotel Grand Mozza, Kamis (11/6) kemarin mengatakan, di lapangan memang masih banyak masyarakat yang belum melakukan atau melanggar.

Contohnya masih banyak warga yang terjaring karena tidak menggunakan masker. Warga yang tidak menggunakan masker dan mengunjungi fasilitas umum seperti pasar langsung ditindak dan menjalani rapid test.

Namun protokol kesehatan bukan hanya memakai masker. Penggunaan transportasi umum maupun pribadi juga belum menerapkan protokol kesehatan. Bus yang mengangkut masyarakat masih seperti biasa bahkan terkadang melebihi batas muatan. Padahal seharusnya hanya diperbolehkan maksimal 50 persen.

Demikian juga dengan kendaraan pribadi yang masih memuat lebih dari 50 persen penumpang. Ojek yang seharusnya dilarang mengangkut penumpang masih tetap beroperasi seperti pada kehidupan normal biasanya. Tapi soal kebijakan pembatasan ojek ini menuai pro dan kontra.

Nicolaas mengakui pengaturan belum dilakukan secara maksimal. “Saya sudah sampaikan ke dinas perhubungan. Ini masing-masing unit punya tanggungjawab menyangkut Dishub, kan sudah ada surat edaran Menhub bahwa alat transportasi hanya bisa 50 persen penumpang. Saya kira Dishub akan kita ingatkan untuk itu,” terangnya.

Fasilitas umum yang beroperasi sama seperti pada kehidupan normal biasanya adalah pasar. Sama sekali tidak diterapkan social distancing. Kondisinya masih sangat padat. Tidak ada jarak antar pedagang maupun pengunjung.

Mengenai pasar, Nicolaas mengatakan tim gugus sedang menyusun desain pengaturan. Namun untuk memulai itu tentu pasar harus dikosongkan terlebih dahulu baru diatur. Sehingga menurutnya mengatur Pasar Sentral tidak mudah.

“Memang kita sempat berpikir kalau diberi nomor di tiap los, dari penomoran itu baru kita berlakukan ganjil genap mungkin itu bisa. Tapi apakah itu efektif tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Tapi kita sedang mendesain,” ungkap Nicolaas. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *