oleh

Waspadai Gelombang Kedua Covid-19

“Ingat bahwa kita masih dalam status kegawatdaruratan, pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan,” tandas Reynold.

TIMIKA – Semakin meningkatnya angka kesembuhan yang lebih tinggi dibanding pasien aktif dan penambahan kasus Covid-19, menjadi kabar baik bagi masyarakat, yang kemudian disikapi dengan kebijakan relaksasi dari Pemerintah Daerah.

Tapi pandemi Covid-19 di Mimika belumlah berakhir. Memasuki masa adaptasi menuju new normal, penambahan kasus masih terjadi. Bahkan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang angkanya sudah sempat turun di bawah angka 10 kini mendadak melonjak lagi menjadi 18 orang. Demikian pula dengan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Orang Tanpa Gejala (OTG) yang jika ditotal lebih dari seribu.

Fakta ini menurut Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19 Mimika, Reynold Ubra menjadi gambaran masih adanya temuan kasus baru yang signifikan dengan ciri atau tanda gejala serta memiliki riwayat kontak erat dengan kasus. Namun diharapkan hasil PCR dari 18 pasien nantinya negatif Covid-19.

Masih adanya temuan ini juga membuat tim kesehatan terutama Penyelidikan Epidemiologi masih melakukan kontak tracing. “Ini bukan rekayasa, atau mencari kontak yang pernah punya riwayat bertemu berhubungan dengan kasus, ini mengikuti protokol bagaimana menyelesaikan kasus,” terang Reynold dalam jumpa pers melalui video conference, Sabtu (20/6) lalu.

Saat ini ditegaskan Reynold, Mimika masih dalam status darurat kesehatan. Untuk itu tiga hal utama harus dilakukan mulai dari jaga jarak ketika berada di tempat umum, di kantor, di pasar, di pusat perbelanjaan, di tempat ibadah. Menggunakan masker dan sesering mungkin cuci tangan. Jika belum cuci tangan jangan sentuh wilayah wajah.

Reynold menyatakan, gelombang kedua pandemi Covid-19 harus diantisipasi. Apalagi akses penerbangan sudah dibuka kembali. Ini membuat pergerakan penduduk akan semakin masif bahkan dari wilayah zona hitam dan merah sekalipun. Makanya setiap orang yang masuk dan keluar harus dipastikan status kesehatannya.

“Gelombang kedua hati-hati karena orang dari zona hitam, zona merah dibuka. Makanya sekolah belum dibuka. Rumah ibadah kita lihat, kita akan pantau 2 Juli apakah angka reproduksi naik. Apakah jumlah kasus meningkat. Kita akan lihat dari jumlah PDP apakah meningkat. Kalau sekarang ada 18 apakah meningkat jika dua kali maka itu tanda tidak baik. Jika positifnya tinggi bisa jadi gambaran,” jelas Reynold.

Angka reproduksi efektif Covid-19 di Mimika saat ini sudah berada di bawah angka 1 tepatnya 0,7. Mimika pun sudah melewati puncak kasus pada akhir Mei lalu. Sementara angka reproduksi di tingkat Provinsi Papua masih di angka 1,2. “Menurunkan satu digit itu tidak mudah. Kita masih tetap rentan, risiko meningkat di Mimika. Karena itu kerja keras di masa ini sangat jauh lebih penting,” tuturnya.

Meski angka reproduksi sudah di bawah angka 1, namun menurut Reynold, ini belum memuaskan. Kewaspadaan harus lebih tinggi. Perubahan zona di beberapa sebaran kasus juga bukan berarti tidak ada masalah, justru menjadi peringatan. Sehingga di masa adaptasi ini masyarakat diminta tetap tinggal di rumah. “Ingat bahwa kita masih dalam status kegawatdaruratan, pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan,” tandas Reynold. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *