oleh

Distanbun Monitoring ke Mimika Timur Jauh

Pastikan Bibit Kelapa Tertanam

TIMIKA – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Mimika, di Tahun 2020 melakukan monitoring terhadap hasil kegiatan Pengembangan Sumber Daya Lahan yang sudah dikerjakan dari tahun 2019 lalu di Distrik Mimika Timur Jauh.

Ada tiga kampung yang dikunjungi langsung, yakni Kampung Fanamo, Otakwa dan Ohotya. Ketiga kampung ini  merupakan kampung program penanaman bibit kelapa di lahan seluas 200 hektare. Dari tiga kampung tersebut, Distanbun membina 9 kelompok tani. Untuk memastikan apakah bibit kelapa dalam lokal sebanyak 7.000 bibit ini sudah tertanam semua, Kadistanbun Mimika Ir Yohana Paliling, MSi dan Kepala Seksi Produksi Tanaman Perkebunan, Bernard D Ansaka, STP sekaligus ketua tim teknis kegiatan Perluasan Areal Sumber Daya Lahan Kementerian Pertanian, pada Kamis dan Jumat (25-26/6) melakukan monitoring ke lahan di Kampung Otakwa dan Ohothya.

Selain monitoring dan ikut menanam bibit kepala, Distanbun juga memberikan dukungan bahan makanan kepada masyarakat di tiga kampung. Sementara untuk lahan di Kampung Fanamo, akan dijadwalkan lagi setelah kegiatan ini.

Ir Yohana Paliling mengatakan monitoring yang dilakukan ini untuk memastikan apakah bibit kelapa dalam lokal ini apakah sudah tertanam semua atau belum. Di mana, kegiatan ini bersumber dari APBNP 2019 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian. Kegiatan ini merupakan program dari pusat yang diberikan ke daerah-daerah di Papua, termasuk Kabupaten Mimika.

Untuk Mimika, melalui program ini didapatkan kegiatan untuk membuka sumber daya lahan seluas 800 hektare yang terdiri atas perluasan sumber daya lahan kelapa 200 hektare. Dari program APBNP, anggaran yang dikucurkan sampai Rp 22 miliar untuk pembiyaan kegiatan pembukaan lahan, perluasan areal, pengadaan benih dan bibit dan pengadaan sarana produksi pertanian (pupuk, alat pertanian dan obat rumput).

Selain kelapa, pada kegiatan yang sama, Mimika juga mendapat program untuk komoditi kopi di lahan 250 hektare di Distrik Iwaka, Kuala Kencana dan Wania di 6 kelompok tani sudah tertanam. Untuk komoditi Kakao di lahan 250 hektar ada di 4 kelompok, yakni di Distrik Iwaka dan Mimika Baru. Lainnya adalah komoditi pinang pada 22 kelompok di Distrik Wania, Mimika Baru, Iwaka pada 100 hektare lahan.

Dengan dukungan Pemerintah Pusat, pemanfaatan lahan-lahan tidur kering. Selama ini, pihaknya sebut Yohana selalu berusaha untuk melaksanakan program ini, namun belum terlaksana sebab terkendala biaya yang besar karena harus membuka lahan. Pembukaan lahan sendiri harus dilakukan dengan bantuan mesin. Namun, khusus untuk pembukaan lahan kelapa karena tidak terjangkau dengan alat berat, dilakukan secara manual oleh masyarakat setempat dengan menggunakan mesin chain saw.

“Kita lihat dengan lahan yang sudah dibuka oleh masyarakat, pohon-pohon yang sangat besar bisa ditebang hanya dengan chain saw, kebersamaan masyarakat luar biasa, bagi saya itu sangat luar biasa, kami terharu bahwa masyarakat antusias melihat program ini dan mereka mau bekerja sama di lahan,” jelas Yohana.

Dengan program penanaman kelapa dalam lokal ini, Yohana berharap paling tidak empat tahun depan masyarakat sudah bisa merasakan manfaatnya.

Distanbun sendiri menargetkan sampai Tahun 2025, kelapa dalam lokal ini bisa tertanam di lahan seluas 3.000 hektare. Untuk mencapai target ini, setiap tahun ditanam di lahan beberapa hektare sampai ratusan hektare setiap tahunya. Dan bibit kelapa yang sudah tertanam ini harus dipelihara. Di mana, mulai 0 sampai 4 tahun setelah ditanam, bibit kelapa harus dipelihara. Dengan optimalisasi kebun, jenis tanaman perkebunan ini memang harus dipelihara agar pada saat panen bisa dipanen dengan kualitas yang baik.

Ditjen Perkebunan sendiri memang menyarankan agar tanaman perkebunan harus dipelihara hingga masa panen. Karena ada ratusan hektare kelapa yang ditanam, maka Distanbun akan selalu mendampingi masyarakat agar semua bibit kelapa yang ditanam ini bisa dipelihara.

“Kita tidak bisa meninggalkan masyarakat dengan lahan dan komoditi yang sudah tertanam, pada saat sudah mulai panen baru kita bisa tinggalkan untuk tidak perlu dipelihara, tapi mereka sudah bisa lakukan sendiri,” ungkap Yohana.

Ke depanya lanjut Yohana, target di bidang perkebunan selain pemeliharaan juga dilakukan perluasan lahan. Sebab, target dari pasca panen komoditi perkebunan adalah untuk kepentingan industri, bukan hanya konsumsi pasar saja. Berbeda dengan tanaman pangan dan hortikultura yang dijual untuk memenuhi pangsa pasar.

Untuk kelapa di Distrik Mimika Timur Jauh ini kata Yohana, ditanam sebagian besar oleh petani dibantu tim dari Distanbun dan pihak SLD PT Freeport. Khusus untuk kurun waktu beberapa bulan belakangan ini, adalah penanaman terbanyak dengan membuka lahan sampai ratusan hektare.

Adapun bibit kelapa dalam lokal ini merupakan bibit yang ada di tanah Mimika ini. Sebab, berdasarkan sertifikasi dari Kementerian Pertanian tahun 2016, Mimika ditetapkan sebagai penghasil bibit kelapa dalam lokal dan disarankan untuk mengirim bibit kelapa ke kabupaten lainya di Papua.

Ditambahkan Yohana, dari monitoring langsung ke Distrik Mimika Timur Jauh selama dua hari memang belum semua bibit kelapa dalam lokal ditanam. Dengan pandemik covid-19, masyarakat belum bisa menanam semua bibit kelapa. Dari 200 hektare, 80 persen lahan sudah terbuka. Dan pada lahan yang terbuka, sudah tertanam semua. Untuk lahan yang belum ditanamani nantinya akan ditanam ditambahanya.

Dari program ini, lahan diharapkan bisa produktif dengan tanaman perkebunan. Karena, tanaman perkebunan adalah investasi untuk keluarga petani ke depanya.

“Jadi bukan saja yang ada sekarang, untuk anak cucu, kita tanam kelapa sampai 25 tahun kan bisa panen, kopi, kakao, pinang, sekali kita taman, kita rawat, kita akan panen terus, dan satu-satunya investasi masyarakat (lokal) di luar tambang itu perkebunan, yang penting apa yang tertanam ini dipelihara,” imbuh Yohana. (ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *