oleh

PPDB SMPN 7 Terapkan Zonasi, Jumlah Pendaftar Membludak

TIMIKA – Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2020 di tingkat SMP telah ditutup sejak tanggal 4 Juli lalu. Juga telah dilakukan ujian seleksi melalui dua cara yakni online bagi calon siswa yang memiliki fasilitas dan offline atau langsung dilakukan di sekolah bagi yang tidak memiliki fasilitas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Dalam penerimaannya pun sekolah terap diminta untuk berpegang pada 4 syarat yang telah ditentukan Kementerian Pendidikan dan Kebidayaan (Kemendikbud) yakni sistem zonasi, afirmasi, perpindahan tugas orang tua dan prestasi siswa. Hal inilah yang ikut diterapkan SMP Negeri 7, dimana sistem zonasi tetap menjadi syarat yang paling utama.

Terbukti dalam pendaftaran PPDB tahun ini, sekolah yang beralamat di Jalan Yos Sudarso Gang Biru Nawaripi telah banyak menolak siswa yang alamat rumahnya tidak masuk dalam rayon SMPN 7. Dimana sekolah ini satu rayon dengan SMP Negeri 8.

Meskipun demikian, pihak sekolah kata Kepala Sekolah SMP N 7 Mimika, Yoseph Watunglawar saat ditemui Radar Timika, Selasa (7/7) mengatakan selalu melakukan koordinasi dengan pihak sekolah SMP N 8, sehingga ketika ada calon siswa yang tinggal di wilayah SMP N 7 namun mendaftar di SMP N 8, akan diarahkan untuk mendaftar di SMP N 7 dan begitupun sebaliknya.

“Dan ketika kami komunikasi dengan SMP N 8 diputuskan bahwa ada pendaftar yang dicoret dari SMP N 7, karena wilayah tempat tinggalnya di SMP N 8 dan sebaliknya juga begitu,” jelas Yoseph.

Ia mengatakan dengan adanya sistem zonasi ini, jumlah pendaftar PPDB 2020 membludak menjadi 280 siswa, padahal ruang kelas yang tersedia hanya 6 saja. Artinya hanya bisa memuat sekitar 192 siswa saja, pasalnya dalam satu rombongan belajar hanya terdiri dari 32 orang.

“Artinya bahwa kita harus penambahan rombongan belajar. Karena di satu sisi kita wajib terima, karena kalau tidak kemana lagi mereka akan sekolah karena sistem zonasi,” jelasnya.

Namun jika ada penambahan ruang kelas maka akan ada penambahan guru juga dan itu juga tetap mengarah pada pembiayaan jika guru tersebut adalah guru honorer. Hal ini yang kemudian akan dibicarakan pihak sekolah dengan Dinas Pendidikan untuk mencari solusi permasalahan ini.

“Ketika kita bicara soal dana BOS, nah itu kita juga tetap diperketat karena yang bisa dibayarkan melalui BOS adalah guru yang terdata di Dapodik Desember 2019 lalu,” katanya.

Sementara untuk proses belajar pada tahun ajaran baru 2020/2021 yang akan dimulai tanggal 13 Juli ini, SMP N 7 jelas Yoseph telah merancangnya. Namun akan tetap melibatkan orang tua untuk memutuskan keputusan yang terbaik.

Ia mengatakan pihak sekolah telah dua kali mengadakan rapat dengan orang tua untuk membicarakan hal ini. Dimana pada pilihan pertama sistem pembelajaran akan dilakukan dengan sistem shift per hari dimana 3 jam pertama akan diisi kelas 7, kemudian 3 jam kemudian akan diisi kelas 8 dan 3 jam kemudian kelas 9.

“Jadi kelas 7 pulang 30 menit kemudian baru masuk kelas 8, karena kita masih akan persiapkan kelas lagi, kita semprot lagi dan begitu pun dengan kelas 9 nantinya. Tetapi masing-masing rombongan belajar masih tetap akan dibagi dua lagi. Tapi ini tetap akan ada penumpukan siswa karena semua kelas 7 akan bertemu begitupun 8 dan 9,” jelasnya.

Sistem Kedua, sistem shift per minggu dimana pada hari pertama yang akan mengisi hanya kelas 7. Dimana 3 jam pertama akan diisi kelas 7a dan kemudian 7b sampai seterusnya. Sementara untuk dua hari kemudian baru diisi kelas 8 dan seterusnya. Artinya sistem belajar ini tidak akan menumpuk siswa, karena siswa yang bertemu pada jam pelajaran hanya 32 siswa saja. Dan sistem ini kata Yoseph mendapat dukungan dari orang tua, namun untuk finalnya baru akan diputuskan pada pertemuan atau rapat terakhir.

Sistem ketiga, adalah online akan tetapi sistem ini tidak mendapat dukungan dari orang tua karena banyak diantara mereka yang tidak memiliki fasilitas pendukung.

“Sistemnya kan dikembalikan kepada sekolah melalui persetujuan orang tua. Nah yang kedua yang sudah mulai mendapat sinyal persetujuan,” tutupnya.(ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *