oleh

Angka Reproduksi Covid-19 Naik Lagi Jadi 2

TIMIKA – Dalam 10 hari terakhir sejak penerapan new normal, situasi penyebaran virus corona atau Covid-19 di Kabupaten Mimika kembali memprihatinkan. Itu tergambar dari angka reproduksi efektif yang kembali melonjak ke angka 2, padahal sebelumnya sudah turun menyentuh angka 0,34. Angka reproduksi efektif ini menunjukkan satu kasus bisa menularkan ke 2 orang lainnya. Padahal sudah turun ke angka 0,34 yang artinya tidak menularkan lagi.

Naiknya angka reproduksi efektif Covid-19 dijelaskan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19, Reynold Ubra disebakan meningkatkan penemuan kasus dari wilayah Tembagapura yang akan turun ke Timika maupun akan naik ke Tembagapura. Termasuk temuan satu kasus baru yang dilaporkan Selasa (14/7) kemarin.

“Terus terang ini mengganggu bagaimana upaya pemutusan rantai penularan. Pada level kebijakan kami sudah menyampaikan ini kepada ketua gugus tugas, dalam hal ini Pak Bupati dan Wakil Bupati untuk diskusi  antar pimpinan,” ujar Reynold.

Dalam rekomendasi dalam pertemuan 2 Juli lalu, tim gugus tugas meminta untuk penerapan new normal khusus untuk wilayah Kota Timika, tetapi untuk zona merah terutama di Tembagapura karena angka reproduksinya kala itu masih di atas 1 maka mestinya tetap dilakukan pembatasan sosial, termasuk mobilitas pekerja.

Tapi lanjut Reynold, dengan situasi sekarang ini tim gugus sudah mendapatkan sinyal atau tanda untuk kewaspadaan. Juga sudah mendapatkan pola penyebaran sebagai dasar untuk menghentikan kasus. Evaluasi yang akan dilakukan oleh tim gugus dalam minggu ini akan menentukan arah kebijakan dalam rangka memutus rantai penularan di masyarakat.

Menurutnya, pematasan sosial pada wilayah zona merah bahkan zona kuning harus diberlakukan. New normal hanya pada wilayah yang memang dinyatakan zona hijau. Mungkin tidak pada level distrik, tapi pada wilayah lebih kecil seperti kelurahan atau kampung.

Meskipun sudah memasuki new normal, tapi tim kesehatan masih terus melakukan deteksi kasus, mencari kasus atau tracing dan melakukan isolasi. Tetapi untuk penegakan protokol kesehatan di masa new normal dikatakan Reynold, dibutuhkan satu regulasi.

“Penerapan protokol kesehatan 3M, masker, mencucui tangan dan menjaga jarak. Ini harus diawasi dan bila perlu diberikan sanksi, karena tidak mungkin kita akan terus menerus seperti ini membatasi pergerakan kemudian relaksasi itu kita akan kembali ke titik nol kalau kondisi seperti ini,” tuturnya.

Di masa new normal ini pula ditambahkannya, harus ada evaluasi seberapa besar kesiapan masyarakat dan tingkat disiplinnya dalam menerapkan protokol kesehatan. Kalaupun harus ada pembatasan yang dilakukan secara ketat lebih ke arah komunitas atau wilayah terkecil yakni kelurahan dan kampung. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *