oleh

Mayarakat Mimika Kehilangan Sosok Titus Potereyauw

TIMIKA – Ratusan warga dan pegawai Pemerintah Kabupaten Mimika menghadiri Misa Arwah Bupati Pertama Mimika (Periode 1996-2001), Titus Octovianus Potereyauw yang meninggal dunia pada Selasa (21/7) di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Mimika. Ibadah dilakukan di Gereja Katolik Stasi Santo Petrus SP I, sekaligus pelepasan jenazah untuk kemudian dimakamkan di TPU SP 1, Rabu (22/7).

Perjalanan Titus untuk membangun Kabupaten Mimika dimulai pada 8 Oktober 1996 di Jayapura, dimana ia mengucap sumpah dan janji jabatan Bupati Kabupaten Mimika di Provinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya. Hari itu kemudian dikenang dan dirayakan sebagai HUT Kabupaten Mimika.

Saat itu, Mimika masih berstatus kabupaten administratif. Titus Potereyauw yang lahir di Kampung Keakwa, 14 Januari 1942 adalah orang yang mengantar Mimika menjadi kabupaten definitif pada 2001. Ia jugalah yang merintis Mimika yang awalnya hanyalah salah satu distrik di Kabupaten Fakfak menjadi kabupaten berkembang seperti sekarang ini.

Riwayat pendidikannya pun tidak meragukan, sehingga wajar jika kala itu ia kemudian ditunjuk menjadi Bupati Mimika. VVS di Kokonao pada tahun 1957, Osiba di Jayapura tahun 1961, sarjana muda APDN Jayapura tahun 1972, sarjana Institut Ilmu Pemerintahan tahun 1978 dan Doktor honoris causa Pshicologie Management Kennedy Western University tahun 2000. Ia memiliki 3 orang anak dari pernikahannya dengan dengan Florida Wimbar Kaize.

Sebelum mejabat sebagai Bupati Mimika Pertama, Titus memiliki riwayat pekerjaan yang luar biasa yakni Kepala Distrik Waropko Muyu Utara di Asmat pada tahun 1962-1964, Distrik Agats Asmat 1965-1969, Distrik Babo tahun 1972-1974, Kepala Camat Babo 1974-1976, Camat Manokwari Kota 1979-1981, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Manokwari 1981-1988, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Biak-Numfor 1988-1996.

Wakil Bupati, Johannes Rettob yang menghadiri acara pelepasan dalam sambutannya mengatakan jangan melupakan sejarah. Titus Potereyauw adalah putra asli Suku Kamoro itu merupakan sosok pejuang yang berjuang untuk membangun Kabupaten Mimika yang sebelumnya hanyalah distrik pada Kabupaten Fak-Fak. Ia mengenangnya sebagai pemimpin yang karismatik, rendah hati dan komiten yang sangat taat pada aturan.

“Saya ingat pesan beliau waktu saya menjabat wakil bupati. Beliau berpesan kepada saya, ade John, kerjalah dengan baik. Jadilah pemimpin untuk rakyat. Kalian dipilih oleh rakyat jadi harus bertanggung jawab kepada rakyat. Tidak boleh berpikir untuk kepentingan pribadi. Kita semua berduka atas kepergian bapak terkasih kita ini,” kata Wabup John Rettob.

Wabup mengatakan, perjuangan Titus Potereyauw untuk membangun Mimika sangat luar biasa. Ia mengisahkan pada Oktober 1996 dimana Titus Potereyauw dilantik menjadi Bupati Mimika, hanya ada satu Kantor Pembantu Gubernur yang dibuat untuk persiapan Kabupaten. Pada waktu itu, katanya Mimika masih merupakan hutan, belum ada apa-apa dan tidak ada orang yang mau datang disini, termasuk pegawai yang ditugaskan di Mimika juga menolak karena merasa Mimika merupakan daerah yang dibuang.

“Beliau membangun pondasi Kabupaten ini. Begitu bupati Potereyauw membangun pondasi dan selanjutnya oleh bupati-bupati lain semua orang berjuang untuk datang untuk mempertahankan diri di kabupaten ini,” ungkapnya

Wabup kemudian  berpesan khusus kepada masyarakat Suku Kamoro untuk tidak menjual tanah untuk hidup, namun justru sebaliknya, hiduplah dengan mengolah tanah sebagaimana yang dipesankan juga oleh Alm Uskup John Saklil.

Ketua Lemasko, Gregorius Okoare mengatakan kepergian Titus Potereyauw adalah kehilangan besar bagi Suku Kamoro, Papua dan Indonesia. Riwayat perjalanan karir dan tugasnya membuktikan jasa besar almarhum.

Mewakili masyarakat Suku Kamoro, ia pun mengusulkan agar Gedung Eme Neme Yauware diubah namanya menjadi Gedung Drs Titus Octovianus Potereyauw.

“Kami sangat berduka cita atas kepergian orang tua, kakak, tete, om, kami bapak Titus Potereyauw,” katanya.

Sementara itu mewakili keluarga, Abaraham Kateyauw mengatakan kepada siapa saja yang telah membantu almarhum semasa hidup terutama saat ia sakit. Sekaligus ia meminta maaf jika semasa hidup almarhum, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun interaksi di instansi pemerintahan pernah melakukan hal yang tidak berkenan terhadap siapa saja.

“Kepada Pemerintah daerah, PT Freeport dan juga Lemasko kami mengucapkan banyak terima kasih untuk bantuannya. Dan kami juga memohon maaf sebesar-besarnya kepada semuanya, kalau ada perilaku atau tutur kata yang tidak berkenan dari beliau kami mohon maaf,” tutupnya. (ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *