oleh

Anggota Dewan Harap Dinas Pendidikan Buka Belajar Tatap Muka

TIMIKA – Proses belajar dari rumah yang dilakukan secara online dan modul, atau guru kunjung yang diterapkan sejak masa pandemi Covid-19 hingga saat ini dianggap tidak maksimal. Penerapan proses belajar jarak jauh ini kata Wakil Ketua Komisi B, Herman Gafur saat ditemui di Gedung DPRD Mimika, Selasa (11/8) kemarin, disebut menghilangkan nilai budaya belajar mengajar bagi siswa.

Menurutnya, Dinas Pendidikan Mimika sudah harus mengambil langkah untuk membuka kembali proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan serta mengatur kembali kembali jadwal belajar misalnya membagi dua rombongan belajar yang terdiri dari 30 siswa. Membagi shift belajar pagi dan siang, mengurangi jam belajar maksimal 4 jam setiap kali pertemuan, serta mengurangi waktu belajar yang sebelumnya 6 hari menjadi 3 hari.

Ia mengatakan proses belajar dari rumah sangat membuat orang tua khususnya ibu-ibu sulit membagi waktu mendampingi anak belajar dan menyiapkan makanan untuk keluarga. Belum lagi bagi orang tua yang sama-sama bekerja.

“Terus terang yah sejak pandemi ini budaya belajar mengajar itu sudah hilang. Karena sesungguhnya budaya belajar mengajar itu sifatnya lebih banyak diajarkan di sekolah, dengan tatap muka,” ujarnya.

Proses belajar yang dilakukan di sekolah sangat berbeda dengan belajar dari rumah. Siswa tidak bisa betul-betul memahami pelajaran dengan baik apalagi bagi siswa yang memilih metode belajar modul atau guru kunjung yang hanya mengerjakan tugas dan mengumpulkannya dan membaca materi saja. Ia yakin orang tua akan setuju jika proses belajar kembali dilakukan di sekolah, asal protokol kesehatan diperketat dan prosesnya tidak seperti dulu lagi.

“Saya selaku orang tua murid bilang itu tidak efektif. Belum lagi ditambah psikologi orang tua. Kalau tidak mau kooperatif dengan tugas-tugas yang disampaikan oleh sekolah, mereka seolah-olah bersalah karena bayarkan anaknya tidak kooperatif tapi disisi lain ilmu untuk jadi tenaga pendidik ini kan ngak semua orang miliki,” jelasnya.(ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *