oleh

Sensus Dimulai 1 September, 430 Petugas Mengikuti Pelatihan

TIMIKA – Setelah Sensus Penduduk Online yang berlangsung pada 15 Februari hingga 29 Mei lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) akan melanjutkan Sensus Penduduk di tahun 2020 ini dengan sensus wawancara yang akan dimulai pada 1 September mendatang secara serentak di seluruh Indonesia.

Dalam sensus wawancara yang akan berlangsung selama satu bulan ini, BPS akan melibatkan petugas sensus. Khusus untuk Mimika, BPS melibatkan 430 petugas. Namun sebelum petugas-petugas tersebut diturunkan, terlebih dulu dilakukan pelatihan yang digelar di dua hotel, yakni Hotel Horison dan Grand Mozza, Jumat (21/8).

Kepala BPS Mimika, Trisno L Tamananpo menjelaskan sensus penduduk tahun ini berbeda dengan sensus penduduk pada tahun 2010 yang lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Dimana untuk tahun 2020 ini sensus penduduk menggunakan data administrasi kependudukan dari Ditjen Dukcapil sebagai basis data dasar. Upaya ini menjadi langkah penting perwujudan satu data kependudukan Indonesia sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 menuju satu data Indonesia.

“Sebelumnya kan dijadwalkan itu Juli kemarin, tapi karena pandemi Covid-19 makanya diundur ke September. Makanya kita sangat berharap petugas sensus bisa mengikuti pelatihan ini dengan baik, agar dalam pelaksanaannya nanti bisa berjalan baik dengan menghasilkan data yang baik pula,” kata Trisno.

Meski dilakukan dalam situasi pandemi, pelaksanaannya pun akan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Dimana sebelum turun lapangan 430 petugas ini akan melakukan rapid test terlebih dahulu. Jika ada petugas yang reaktif tidak akan dilibatkan. Begitupun di lapangkan para petugas akan dilengkapi dengan masker, face shield dan hand sanitizer untuk mencegah penularan Covid-19.

Adapun quesioner yang akan digunakan adalah kertas scanner dan pensil B2. Dan dalam pendataannya pun akan tetap berkoordinasi dengan pemerintah setempat termasuk Ketua RT.

Ia menjelaskan sensus penduduk tidak bertujuan untuk menghasilkan data menurut individu yang dipublikasikan, tetapi data yang dihasilkan dalam bentuk agregat dalam bentuk angka, tabel dan gratik sekalipun nantinya dalam wawancara tetap menggunakan keterangan nama kepala dan anggota keluarga.

“Saya harap masyarakat memberikan informasi yang sebenar-benarnya. Sensus ini hanya dilakukan setiap 10 tahun, jadi sangat diharapkan untuk keterangan yang benar. Kalau yang setiap tahun kami lakukan itu bukan sensus, tetapi survei dan itu tidak semua penduduk. Sensus yang kami lakukan bukan untuk mendata penerima bantuan seperti yang kadang dipikirkan masyarakat,” tutupnya.(ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *