oleh

Yohanis Boyau Dilantik Jadi Ketua Lemasko

TIMIKA – Badan Musyawarah (BM) Lembaga Musyawarah Suku Kamoro (Lemasko) resmi melantik Ketua Definitif Lemasko, Yohanis Yance Boyau Periode 2020-2024 mendatang, Senin (24/8) di SP 1 Jalur 3, tepatnya di kediaman Yohanis Yance Boyau yang dihadiri oleh masyarakat Suku Kamoro, perwakilan TNI dan POLRI.

Pelantikan yang dilakukan oleh Ketua BM Lemasko, Hendrikus Atapemame ini berlangsung dengan lancar.

Ketua BM Lemasko, Hendrikus Atapemame mengatakan bertanggungjawab kepada seluruh masyarakat Suku Kamoro dan siap melantik Ketua Lemasko yang dipilih oleh masyarakat yakni Yohanis Yance Boyau menggantikan Ketua pelaksana tugas (Plt) Gregorius Okoware.

Ia menjelaskan BM sebagai wadah organisasi tertinggi dalam lembaga memiliki hak untuk melantik ketua terpilih. Ketua yang dipilih oleh masyarakat.

“Saya terima kasih kepada teman-teman saudara-saudara saya, anggota BM yang menunjuk saya mempercayakan saya menggantikan almarhum dan saya mengghargai seluruh pendiri lembaga yang sudah berpulang dan masih ada apapun amanat yang mereka tinggalkan saya siap lanjutkan,” katanya.

Ia berharap Yance Boyau bisa membawa Lemasko menjadi lembaga yang berkembang, lembaga yang mengedepankan masyarakat dan selalu mendengarkan setiap suara masyarakat dalam melakukan setiap tindakan, termasuk programnya.

“Harus membawa perubahan dan membawa lembaga ini menjadi lebih baik lagi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Lemasko, Yohanis Yance Boyau menjelaskan alasan kuatnya mau menjadi Ketua Lemasko adalah karena selama ini ia melihat masyarakat Suku Kamoro benar-benar membutuhkan kemajuan, membutuhkan perhatian dan bantuan, dalam hal ini rumah.

Hal ini yang mendorongnya untuk membuat program pertama dalam kepengurusannya yakni pengadaan rumah yang saat ini sudah mulai ia jalankan di 69 kampung, dimana pada tahap pertama ini Yance membangun masing-masing 3 rumah yang dijalankannya bersama Yayasan Peduli yang merupakan yayasan yang ada di bawah Lemasko.

Rumah yang dibangun ini terdiri dari dua jenis yakni papan dan batu yang disesuaikan dengan kondisi tempatnya. Kalau tempatnya rawa maka yang dibangunan adalah rumah papan dengan bahan utama kayu besi.

“Kenapa kita bangun rumah kayu karena kalau kita paksa bangun rumah batu diatas rawa maka masyarakat akan sengsara. Tipe 42 yakni 7X6. Selama ini saya melihat masyarakat Kamoro masih kedinginan. Masih tidur di lumpur, masih tidur di pasir. Jadi program pertama saya setiap batas kampung pesisir batas kampung Suku Kamoro,” jelasnya.

Dalam membangun dan memajukan kembali suku Kamoro, ia siap bekerjasama dengan pihak pemerintah dan juga PT Freeport. Yance siap memperjuangkan hak-hak suku Kamoro dan membuat masyarakat ini kembali tersenyum di tanah sendiri. (ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *