oleh

Mimika Jadi Lokus Kemenkes

Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Anak dan Revelensi Stunting di Papua

Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar penguatan audit maternal perinatal surveilans dan respon atau atau mengaudit penyebab kematian ibu dan neonatus di Kabupaten Mimika, Selasa (8/9) di Hotel Horison Ultima Timika. Pasalnya di tahun 2020-2024 Mimika menjadi salah satu  Lokasi Fokus (Lokus) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi dan terpilih sebagai salah satu Kabupaten untuk menurunkan revalensi stunting di Provinsi Papua.

“Jadi, ini merupakan lokus prioritas nasional sampai tahun 2024. Nah, bagaimana untuk melakukan audit maternal atau strategi-strateginya, maka perlu dilakukan pemantapan mutu tenaga dalam rangka langkah-langkah apa yang harus dilakukan pada saat melakukan audit terhadap penyebab kematian ibu dan anak di Kabupaten Mimika,” kata Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra.

Kegiatan ini tidak terlepas dari rencana kerja yang saat ini sedang dijalankan Dinkes, yang telah dijalankan maupun yang akan evaluasi.

Ia menjelaskan ada tiga puskesmas Angka Kematian Ibu (AKI) atau lokus menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Mimika yakni Puskesmas Atuka Puskesmas Manasari dan Puskesmas Jita. Sementara untuk stunting hanya dua puskesmas yaitu Puskesmas Manasari dan Puskesmas Atuka.

Untuk kematian ibu dan bayi Sustainable Development Goals (SDGs) menetapkan terjadi penurunan AKI dari 305 menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan di Mimika masih ada diangka 400. Rata-rata kematian ibu melahirkan setiap tahun di atas 15.

Sementara bayi jauh lebih tinggi yakni bisa 20. Hanya saja, angka kematian yang dilaporkan itu kecil oleh karena itu tidak terlapor, sehingga Dinkes mencoba untuk membeda hal ini dan mencari faktor-faktor apa yang menyebabkan ibu meninggal.

“Jadi, kami memotret data-data kesehatan dalam rangka menyiapkan fasility base-nya seperti apa untuk sarana kesehatan baik tingkat fasilitas kesehatan tingkat dasar maupun rujukan. Kemudian nanti kami akan memotret bagaimana di komuditasnya atau di masyarakatnya. Sehingga, hal-hal yang berpengaruh ini bisa di desain kemudian bisa diintervensi,” jelas Reynold.

Berdasarkan data nasional, ibu dan bayi yang rentan meninggal terjadi di daerah yang aksesnya terbatas. Namun jika melihat data-data di Mimika hal ini sebenarnya sebanding.

Faktor penyebab ibu berisiko dan bahkan meninggal adalah 4 Terlalu dan 3 Terlambat. Yaitu terlalu muda waktu hamil, terlalu dekat jarak kehamilannya, terlalu tua waktu hamil yaitu diatas 35 tahun menjadi resiko dan terlalu banyak yakni anaknya lebih dari dua. Dan untuk 3 Terlambat yakni terlambat datang ke fasilitas kesehatan yakni 3 Terlambat, terlambat datang ke fasilitas kesehatan, terlambat mengambil keputusan dan terlambat tenaga kesehatan untuk memberi pertolongan.

“Jadi ada 4 Terlalu dan 3 Terlambat itulah yang sebenarnya mendorong. Tetapi hal ini tidak menjadi satu, artinya bisa dipilah-pilah supaya bisa melihat mana yang menjadi penyebab utama. Ini yang harus bisa kita pastikan. Untuk Mimika sediri, sama dengan pola-pola nasional yaitu 4 Terlalu dan 3 Terlambat yang cukup berpengaruh,” ungkapnya.

Ia menjelaskan target Dinkes di tahun 2020 ini, dimana ada stunting, isu kematian ibu dan ada dan juga ada penyakit menular termasuk Covid-19 yang bisa dilakukan atau disiapkan dalam triwulan terakhir di tahun 2020, yaitu menyiapkan sistemnya yang harus terpadu, terintegrasi tapi berkesinambungan. Dalam sistem ini apa saja yang dibutuhkan itu harus terpenuhi.

Dalam pelayanan dasar puskesmas ada 4 hal yang harus terpenuhi. Yakni pertama, sumber daya tenaga kesehatan. Tenaga puskesmas harus sesuai minimal memenuhi 9 jenis tenaga. Kalau di daerah terpencil minimal ada 5, yakni tenaga dokter, para medis yaitu perawat, bidan, tenaga penujang medis seperti tenaga laboratorium, tenaga farmasi, tenaga Kesehatan Masyarakat. “Sudah itu saja, nanti yang lain tinggal disesuaikan,” tutur Reynold.

Kedua, alat-alat kesehatan sesuai stadar, yaitu alat kesehatan gawat darurat level satu, alat standar pelayanan untuk kesehatan ibu dan anak dan pelayanan kesehatan laboratorium. Ketiga, obat-obatan yang harus tersedia. Dan keempat, pembiayaan kesehatan.

“Keempat hal ini tidak bisa terpisahkan. Keempat hal ini menjawab bagaimana meminimalisir atau mengendalikan angka kematian ibu dan anak tetapi juga untuk penyakit-penyakit lainnya terutama penyakit esensial,” katanya.

Semenetara untuk stunting di Mimika, lebih rendah daripada angka nasional. Angka nasional diturunkan menjadi 14 persen di tahun 2024, sedangkan di Timika ada pada angka 9 persen. “Angka ini dalam tanda kutip fenomena gunung es itu harus tetap berlaku bahwa angka 9 atau angka 1 berarti ada 100 dibalik angka itu. Tetapi meskipun itu real terjadi, maka yang harus dilakukan adalah bagaimana mencegah supaya angka stunting ini tidak meningkat,” sebutnya.

Dan untuk pemicunya, lanjut Reynold, sangat komplek mulai dari pelayanan ibu dan anak, misalnya terlalu banyak 4T bisa mempengaruhi anak itu kerdil. Kemudian saat bersalin tidak ditolong oleh tenaga kesehatan tetapi ditolong oleh dukun.

“Mestinya bidan dan dukun beranak harus bermitra, pada saat bersalin kalau ditolong oleh tenaga kesehatan maka dia akan mendapat imunisasi, pemantauan 1 x 24 jam pasca perslinan atau kunjungan neonatusnya sampai 3 hari persalinan, kemudian pelayanan asi eksklusif itukan harus jalan. ditambah dengan kasus-kasus malaria, contoh setelah lahir atau ibu dalam masa kehamilan kena malaria, kasus TB anak di Timika tinggi, di Puskesmas Manasari kasus TB anak ternyata itu 8 pada tahun 2019, terus pada bulan juni semester pertama pada tahun 2020 meningkat jadi 16, jadi 2 kali lebih tinggi,” jelasnya.

Hal ini Ini menujukkan bahwa sebenarnya stunting itu juga menjadi masalah kesehatan di Mimika. fakta bahwa di rumah-rumah sakit terdapat balita atau anak yang gizi buruk. Gizi buruk terjadi  bukan karena tidak makan tetapi disebabkan oleh penyakit-penyakit menular seperti malaria yan tidak tuntas, imunisasi yang tidak lengkap. Apalagi dimasa pandemi Covid-19 ini sangat rentan, oleh karena itu Dinkes mencoba mendesain bagaimana sistem yang harus terintegrasi tetapi berkesinambungan.

“Ibu hamil ketika ditemukan pertama kali itu harus dipantau sampai dia melahirkan sampai minimal K1 kunjungan neonatus 24 jam 48 jam, itu baru selesai kemudian dikawal sampai usia dua tahun. Makanya pentingnya 1000 hari pertama kehidupan saat ibu itu hamil sampai anak dua tahun menjadi penting,” tutupnya. (ptb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *