oleh

Bupati dan PTFI Rapat Bahas Dana Kemitraan

TIMIKA – Sebagai tanggungjawab sosialnya, PT Freeport Indonesia (PTFI) mengalokasikan dana untuk pengembangan masyarakat di Mimika, khususnya dua suku besar Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan lainnya.

Untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program yang didanai, Bupati Mimika, Eltinus Omaleng, SE MH mengundang manajemen PTFI dalam rapat yang digelar Rabu (7/10) kemarin di Hotel Grand Mozza.

Bupati Eltinus Omaleng usai pertemuan mengatakan dana kemitraan dari PTFI dikelola oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK). Namun dalam pertemuan, Bupati meminta penjelasan soal dana kemitraan atau yang selama ini dikenal dengan dana satu persen.

“Masyarakat pikir seperti CSR, dana operasional PTFI sumbernya dari dana satu persen. Ternyata tadi dijelaskan bahwa dana 1 persen sumbernya tersendiri. Sedangkan dana SLD dan CSR sumbernya sendiri,” ungkap Bupati.

Bupati Omaleng menegaskan PTFI harus tetap mengalokasikan dana kemitraan untuk pengembangan masyarakat. Sebab dana ini berbeda dengan saham yang juga sudah didapatkan oleh Pemerintah Kabupaten Mimika sebesar 7 persen.

“Dana satu persen akan tetap ada. Kalau bicara saham itu milik pemerintah itu beda. Jadi 7 persen milik pemerintah. Sedangkan satu persen itu adalah perhitungan dari pendapatan kotor PTFI. Jadi jangan campur baur 1 persen dan saham. Kalau dana 1 persen itu cash sedangkan 7 persen berupa saham,” jelas Bupati Omaleng.

Direktur PTFI, Claus Wamafma mengatakan PTFI masih dengan komitmen yang sama mengenai pemberdayaan masyarakat sampai izin operasional berakhir pada Tahun 2041 mendatang. Hanya saja seiring perkembangan, perlu ada penyesuaian karena ada banyak perubahan dibanding 20 tahun lalu.

“Komitmen kita masih sama. Harapan kita kedepan, program lebih baik, artinya distribusi daripada benefit itu betul-betul diterima oleh masyarakat akar rumput. Kita ingin masyarakat yang selama ini tidak terlayani di kampung-kampung bisa merasakan manfaat operasi tambang dan program YPMAK,” katanya.

Dana satu persen dijelaskan Claus, diambil dari revenue penjualan sebelum dikurangi pajak dan lain-lain. Tapi diluar itu, untuk program sosial ada sumber lain. Seperti program special project misalnya pembangunan stadion, fasilitas air bersih dan Institut Nemangkawi ini bukan dari dana satu persen.

Ada juga dana operating yang dikelola langsung oleh PTFI melalui Community Affair yang nilainya juga tidak sedikit. Bahkan ada sumber lain lagi yang tujuannya sama, yakni pengembangan masyarakat.

“Jadi sebenarnya kami ada punya empat atau lima sumber dana. Dalam 20 tahun terakhir rata-rata 100 juta USD. Kalau kurs hari ini sekitar Rp 1,5 triliun itu semua. Kalau dana kemitraan rata-rata Rp 800 miliar setiap tahun,” ujar Claus.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *