oleh

3 Tahun, Oknum Aparat Selundupkan 7 Senpi

JAYAPURA – Kapolda Papua, Irjen Pol. Paulus Waterpauw mengakui Bripka MJH, oknum anggota polisi  yang ditangkap karena menyelundupkan senjata api dari Jakarta ke Nabire, sudah menyelundupkan tujuh pucuk senjata api. Bayaran yang diterimanya mencapai ratusan juta rupiah.

“MJH  mengakui dia hanya menerima ongkos dari hasil dia membawa senjata. Dalam hitungan kami, pertama kali didapat ongkos RP 10 juta, kedua kali Rp 25 juta, tiga kali Rp 30 juta, keempat Rp 25 juta, untuk senjata panjang, untuk gold dapat RP 15 juta, kemudian M-For Rp 25 juta dan yang terakhir  M-16 RP 25 juta. Senjata ini sudah sampai dimana, kita sedang berupaya ungkap ini,” jelas Kapolda saat konfrensi pers bersama Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI. Herman Asaribab, di Mapolda Papua, Senin (2/11).

Dijual hingga Rp 350 Juta Per Pucuk

Kapolda menuturkan, senjata laras panjang dibeli di Jakarta dengan harga Rp 150 juta, kemudian dijual ke Papua dengan harga Rp 350 juta. Penyelundupan senjata ini diduga sudah berlangsung sejak tahun 2017 lalu hingga saat ini.

“Nilai jualnya cukup tinggi, dibeli di Jakarta Rp 150 juta dan dijual di Papua Rp 300 sampai Rp 350 juta. Untuk sementara yang sudah diungkap dari tahun 2017 bulan Juni sampai dengan 2020 ini. Pertama kali senpi ini tahun 2017, DD mantan anggota DPRD Paniai mengadaikan mobilnya dan kepada FAS menanyakan tentang senjata,” ungkap Kapolda.

Terkait modus operandi penyelundupan senjata, Kapolda mengaku masih melakukan penyelidikan apakah ada unsur kesengajaan dari Perbakin ataukah kelalaian. “Apakah mereka sengaja atau lalai, untuk saat ini lalai karena mereka hobi, tergabung dalam Perbakin, kemudian saling berkomunikasi, saling memberi dan menjual, tetapi kita sedang ungkap kesengajaanya, sebab ini kan nilainya tinggi. Kalau memang tahu nantinya digunakan oleh KKB,  itu artinya niat, berarti  itu terungkap modusnya,” terang Kapolda.

Waterpauw membenarkan jika senjata api yang dibawa Bripka MJH tersebut, dipesan oleh salah seorang mantan anggota DPRD Intan Jaya yang hingga kini belum diketahui keberadaanya. “Jadi benar, ada oknum mantan anggota dewan yang memasan, ini sedang dalam pengungkapan oleh kita, sampai hari ini belum kita temukan  yang bersangkutan,” jelasnya.

Dalam kasus penyelundupan senjata api , Polda Papua mengamankan tiga orang yakni Bripka MJH, oknum anggota Brimob Kelapa Dua,  dan DC oknum ASN serta anggota Perbakin  yang menjemput senjata dan menyerahkan  senjata sesuai petunjuk   FAS. Selain itu, DC juga sebagai pemilik satu pucuk senjata api laras pendek jenis Gold, beserta lima butir peluru dan megazen. “DC juga memesan satu pucuk senjata api laras panjang jenis M-16 kepada tersangka Bripka MJH, yang mana  senjata api tersebut merupakan pesanan dari SK yang  dipesan pada Desember 2019. SK ini orang asli Papua,” terangnya.

Dan tersangka terakhir, FAS  merupakan mantan anggota TNI-AD,  yang dalam kasus tersebut menerima pesanan dan mencari sendiri senjata api, sesuai dengan pesanan kepada  MJH dan menyuruh DC untuk menjemput senjata  api di Bandara Nabire dan menyerahkan kepada pemesannya. Atas perbuatannya, para tersangka dijerat pasal 1 ayat 1  UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 junto pasal 55 KUHP, karena secara bersama-sama, tanpa hak  menerima, mencoba, memperoleh, menyerahkan, atau  mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persedian padanya,  atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut sesuatu senjata api, amunisi atau bahan peledak, dengan ancaman hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun. (al/rasor)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *