oleh

Disparbudpora Hidupkan Sanggar Budaya Lewat Pameran di Tengah Pandemi

TIMIKA – Setelah digelar selama tiga hari mulai Senin (14/12) di Gedung Tongkonan, Pameran Adat Budaya Daerah dari Suku Amungme dan Kamoro oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olaharaga resmi ditutup Rabu (16/12) kemarin.

Pameran ditutup oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Daerah, Yulianus Sasarari didampingi Sekretaris Disparbudpora, Sriyanti Ramping, SSTP MSi. Sebelum pameran ditutup, para peserta pameran dari sejumlah sanggar menampilkan tarian dari masing-masing kampung.

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Daerah, Yulianus Sasarari mengatakan, pameran ini merupakan rangkaian dari pencanangan Kampung Iwaka sebagai Desa Wisata Budaya di Mimika. Ini sebagai cara pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata untuk memulihkan ekonomi dengan mengucurkan anggaran ke daerah melalui Disparbudpora.

Sektor pariwisata salah satunya wisata budaya kata Yulianus sangat terdampak akibat pandemi Covid-19. Agar sanggar budaya sebagai pelaku bisa tetap bertahan hidup maka Pemda Mimika dengan memanfaatkan dana hibah dari Kemenpar melakukan pameran sebagai bentuk motivasi dan dorongan kepada para pengrajin agar tidak putus asa.

Mimika kata dia sedang menghadapi dua even besar yakni Pesparawi dan PON. Kata Yulianus, momen ini akan menjadi peluang besar bagi sanggar karena kontingen yang datang ke Timika, selain bertanding pasti ingin melihat ciri khas daerah baik itu seni tari dan juga ukiran sebagai oleh-oleh.

Untuk itu meskipun di tengah pandemi Covid-19, Pemda Mimika dikatakan Yulianus terus mendorong para pelaku UKM termasuk sanggar untuk tetap menghasilkan karya. Apalagi Kemenpar sudah berupaya menguatkan dengan mengucurkan dana hibah yang bisa dirasakan melalui program pameran.

Sekretaris Disparbudpora, Sriyanti Ramping, SSTP MSi menambahkan Kemenpar mengalokasikan anggaran ke daerah dalam rangka pemulihan ekonomi di sektor pariwisata. Agar lebih dirasakan oleh masyarakat, maka Disparbudpora menggelar pameran untuk membantu sanggar dalam melakukan promosi hasil karya.

Lewat pameran, sanggar diharapkan bisa terus bertahan di tengah pandemi Covid-19 bahkan terus berkembang. “Memang bantuan hibah tidak dalam bentuk uang tapi program. Sama seperti di Iwaka diberikan alat ukiran bukan dalam bentuk uang,” ujarnya.

Disparbudpora lanjut Sriyanti, pada Tahun 2021 mendatang sudah merancang program pendataan sanggar seni budaya di Mimika. Kata dia, masih banyak sanggar yang belum terdata sehingga ini menjadi kesulitan dalam melakukan pendampingan. (sun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *