oleh

Tersangka Cabul Terancam 20 Tahun Penjara

TIMIKA- Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mimika, kini telah menetapkan oknum pembina asrama di Sekolah Taruna Papua (SATP) berinisial DFL (30) sebagai tersangka kasus pencabulan dan kekerasan.

Hal itu diungkapkan Kasat Reskrim Polres Mimika, AKP Hermanto, SH SIK saat menggelar press release kasus tersebut, Sabtu (13/3) lalu di kantor Pelayanan Polres Mimika.

Dalam kesempatan itu, Kasat Reskrim menjelaskan kronologis terungkapnya kasus pencabulan dan kekerasan itu, bermula ketika Kepala Sekolah mendapatkan salah seorang siswa yang sementara menangis.

“Kepala sekolah dapatkan salah satu siswa sementara menangis di kamar asrama. Dan ketika ditanya lalu salah satu korban menceritakan kejadiannya. Jadi tersangka sudah melakukan aksi bejatnya sejak Bulan November Tahun 2020 sampai Bulan Maret ini,”ungkapnya.

Untuk jumlah korban sendiri, berjumlah 25 orang siswa dan kebanyakan korbannya merupakan siswa laki-laki. “Ada 10 siswa yang tersangka lakukan pencabulan, dan sisanya itu korban kekerasan,”singkat AKP Hermanto.

Kasat Reskrim juga membeberkan modus tersangka DFL melakukan aksi bejatnya itu yakni, ketika tersangka bertugas pada shift malam pada asrama SATP.

“Modusnya saat tersangka dapat shift malam, kemudian korban diajak ke kamar mandi setelah itu korban dipaksa untuk oral sex,”kata AKP Hermanto.

Kemudian Kasat Reskrim juga mengatakan, berdasarkan keterangan dari tersangka DFL, bahwa ia melakukan perbuatan bejatnya itu lantaran sering memandikan para siswa yang berusia rata-rata 6 sampai 13 tahun.

“Sehingga ada niatnya untuk melakukan pencabulan itu. Kalau yang perempuan cuma satu orang, tersangka baru mau peluk korban tapi korban tidak mau,”singkatnya.

Dalam kasus tersebut, selain mengamankan tersangka DFL, polisi juga mengamankan barang bukti berupa satu potongan kayu dan sehelai kabel.

“Kayu itu digunakan untuk mengancam siswa yang akan tersangka cabuli atau kekerasan. Lalu kabel itu digunakan apabila siswa yang diajak tapi tidak mau maka dipukul oleh tersangka,”ucap Kasat Reskrim.

Kemudian Kasat Reskrim juga mengatakan terkait dengan kasus itu, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan, psikiater untuk melakukan screening terhadap kejiwaan tersangka DFL.

“Kesempatan ini, kami juga minta dari pihak sekolah apabila ada siswa yang menjadi korban tapi belum melapor, agar bisa melaporkan ke kami,”tegasnya.

Sementara untuk para korban sendiri, kata AKP Hermanto bahwa mereka saat ini didampingi oleh pihak Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Mimika.

Akibat perbuatannya tersangka DFL diancam pidana 5 sampai 20 tahun penjara, sebagaimana diatur dalam Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Untuk diketahui tersangka DFL diamankan kepolisian pada Kamis (11/3) lalu rumah salah satu kerabatnya di SP 1, Kelurahan Kamoro Jaya. Ia diamankan lantaran dilaporkan telah melakukan tindakan pidana pencabulan dan kekerasan, terhadap 25 anak di bawah umur yang merupakan pelajar pada SATP yang berada di Jalan Sopoyono, SP 4, Kelurahan Wonosari Jaya. (tns)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *