oleh

Kasus Percabulan di Taruna Papua Jadi Indikasi Kegagalan Pengelola Asrama

TIMIKA – Terjadinya kasus pencabulan yang dialami oleh 25 murid di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) menjadi indikasi, adanya kegagalan pengelolaan sekolah berpola asrama ini. Anak-anak yang seharusnya mendapatkan pembinaan dari para pembina asrama, malah mendapatkan tindakan tidak senonoh yang melanggar tatanan kehidupan.

Banyak pihak yang sangat menyayangkan hal bejat tersebut dilakukan oleh oknum pembina asrama, kepada anak-anak yang dititipkan di sekolah tersebut. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua DPRD, Robby Kamaniel Omaleng saat ditemui Radar Timika, Selasa (16/3) di Jalan Cenderawasih.

Menurutnya, kasus percabulan yang disertai dengan kekerasan di SATP oleh oknum pembina asrama ini merupakan perbuatan yang bejat. Sekolah yang berpola asrama ini sebutnya dikelola, untuk mendidik dan membina para generasi emas Papua ini.

Apa yang dilakukan oleh oknum pembina asrama ini sebutnya, adalah yang sangat tidak wajar dilakukan oleh orang tua asuh mereka di sekolah. Hal ini kata Robby, mengindikasikan adanya kegagalan pihak pengelola, dalam menjalankan manajemen pengelolaan asrama.

“Itu adalah kegagalan dari pengelola, dia tidak melihat dan tidak betul-betul menjalankan sebuah manajemen di dalam sehingga bisa terjadi hal itu,” jelasnya.

Dikatakan Robby, kasus percabulan yang menimpa anak-anak di bawah usia ini juga bisa terjadi, karena pihak pengelola belum benar-benar melihat perekrutan tenaga pembina asrama. Untuk menjalankan sekolah berpola asrama ini, sebutnya bukan saja dilihat dari sisi akademik dari guru, namun yang paling penting adalah calon pembina asrama punya mental dan akhlak yang sudah teruji.

“Untuk jadi pembina alangkah lebih bagusnya cari yang sudah berpengalaman dari sisi manajemenya, supaya anak dididik dengan baik,” jelasnya.

Lanjutnya, ia berharap ke depan pihak pengelola bisa melihat orang yang sudah matang dan berpengalaman, seperti guru-guru yang sudah pensiun dan yang sudah berumur untuk membina anak-anak di asrama. Banyak guru-guru seperti ini kata Robby, ada di Timika. Terlebih lagi guru-guru lokal yang sudah berpengalaman dan bukan direkrut dari luar Timika.

Untuk kasus ini kata Robby, memang bukan dititikberatkan pada yayasan yang mengelola sekolah ini. Yayasan yang mengelola yakni YPMAK sebutnya sudah teruji mengelola bidang pendidikan seperti ini. Jika berbicara soal pendidikan, pendekatannya adalah kepada manusianya.

Masalah seperti ini jelasnya menjadi perhatian semua pihak dan menjadi evaluasi bagi pihak pengelola. Kasus yang menjadi pelajaran berharga semua pihak ini kata Robby, ke depanya tidak terjadi lagi. Khusus untuk perekrutan pembina asrama, merupakan tanggung jawab dari pihak yayasan pengelola. Ditambahkannya, untuk pelaku kejahatan dapat diberikan hukuman sesuai dengan perbuatanya. (ami)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *