oleh

Polres Kembali Ungkap Dua Kasus Kepemilikan Narkotika

TIMIKA – Jajaran Sat Resnarkoba Polres Mimika, Sabtu (13/3) kembali berhasil mengungkap dua kasus kepemilikan narkotika golongan I jenis tembakau sintetis dan ganja. Kapolres Mimika, AKBP I Gusti Gde Era Adhinata, SIK melalui Kasat Resnarkoba Polres Mimika, AKP Mansyur, SH yang dikonfirmasi Radar Timika, Selasa (16/3) kemarin menjelaskan bahwa untuk narkotika golongan I jenis tembakau sintetis, merupakan milik tersangka MP. Sementara untuk ganja merupakan milik tersangka berinisial DW dan YW.

“Ketiga tersangka sudah kita amankan dan tahan di tahanan Polres Mimika,” singkatnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan kronologis pengungkapan kasus kepemilikan narkotika golongan I jenis tembakau sintetis, bermula saat pihaknya menerima informasi bahwa pada Sabtu (13/3) siang, paket tersebut diambil oleh seseorang yang diketahui berinisial HJR di kantor salah satu jasa pengiriman barang yang berada di Jalan Budi Utomo.

“Jadi kita amankan yang ambil paket di Jalan Budi Utomo, dan ternyata setelah kita interogasi, dia bukan pemilik barang. Setelah kita tanya, ternyata ada orang lain yang punya barang itu, hanya saja yang datang ambil barang itu karena namanya yang tertulis di paket itu. Makanya di teleponlah sama tempat jasa pengiriman barang itu untuk ambilkan barangnya, makanya dia datang ambil,” jelas Kasat Narkoba.

Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengembangan, maka diketahuilah pemilik barang tersebut ternyata milik tersangka MP yang berada di Jalan Delima, SP 2.

“Akhirnya ketika didalami, ternyata pemilik barang itu ada orangnya atas nama MP kita amankan di Jalan Delima, SP 2. Asal pengirimannya dari Makassar,” sambung AKP Mansyur.

Selain mengamankan tersangka MP, polisi juga mengamankan barang bukti berupa satu paket narkotika golongan I jenis tembakau sintetis.

“Yang kita amankan pertama di jasa pengiriman barang itu sejauh ini masih kita jadikan saksi. Karena dari keterangan dia, memang belum ada unsur keterlibatan dia dalam kepemilikan narkotika itu. Sebab saat itu dia hanya ditelepon oleh pihak jasa pengiriman barang untuk ambil barangnya, karena di alamat yang tertera di paket itu alamatnya dia dan atas nama dia,” urai Kasat Resnarkoba.

Selanjutnya, bahwa dari hasil pengembangan dan berdasarkan informasi dari masyarakat, pada hari yang sama yakni Sabtu (13/3) lalu, pihaknya juga mengamankan tersangka DW dan YW yang merupakan pemilik narkotika jenis ganja.

“Keduanya kami amankan di Jalan Cenderawasih, depan pasar SP 2. Saat kami di sana, kita lihat ada sepeda motor yang kita curigai dan saat kita geledah ternyata temukan barang bukti satu paket kecil narkotika jenis ganja di dashboard sepeda motor. Jadi dalam sehari itu kita ungkap dua kasus,” sebutnya.

Untuk tersangka MP sendiri dijerat Pasal 114 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang berbunyi, “Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun, dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 1 milyar dan paling banyak Rp 10 milyar”.

Dan Pasal 112 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang berbunyi, “Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 800 ribu dan paling banyak Rp 8 miliar.

Sementara untuk tersangka DW dan YW di jerat Pasal 111 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang berbunyi, “Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun, dan paling lama 12 tahun. Dan pidana denda paling sedikit Rp. 800 juta, dan paling banyak Rp 8 miliar”.(tns)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *