oleh

Perang Saudara di Beoga Berakhir, Hukum Positif Ditegakkan

Proses Perdamaian Dijaga Ketat Pasukan TPN-OPM

BEOGA – Pemerintah Kabupaten Puncak yang dipimpin Bupati Puncak Willem Wandik, SE MSi dan pimpinan serta anggota DPRD Puncak berhasil memediasi proses perdamaian perang saudara, yaitu prosesi adat  belah kayu dan patah panah antara kubu Aten Kum dan Oaniti Manga, setelah sebelumnya kedua belah pihak saling menyerang dengan anak panah, yang menyebabkan satu orang meninggal dunia dan puluhan luka panah, yang terjadi di Kampung  Julukoma, Distrik Beoga. Perang ini sendiri sudah terjadi sejak Selasa (23/3) lalu.

Bahkan dalam perang kali ini hukum positif sudah diberlakukan. Terbukti dengan pelaku perzinahan Aten Kum, pelaku perang, sudah ditahan oleh aparat Polres Puncak dan sudah dibawa ke Ilaga dan ditahan, untuk menjalani proses hukum selanjutnya.

Untuk diketahui peristiwa perang saudara ini berawal dari kasus perzinahan antara Aten Kum dan istri dari Oanti Manga, sehingga ada tarik menarik denda adat. Dan akhirnya kedua belah pihak angkat panah, menyebabkan satu gembala menjadi korban terkena anak panah dan meninggal dunia saat perawatan di RS di Timika. Dampaknya, perang pun menjadi besar antara kedua belah pihak sejak Selasa (23/3) lalu.

Bupati Puncak Willem Wandik, SE MSi tak mau melihat pertikaian yang menggunakan alat perang tradisional panah dan busur tersebut. Apalagi menimbulkan korban jiwa. Maka sejak Kamis (1/4) dirinya bersama pimpinan dan anggota DPRD Puncak serta Kapolres Puncak Kompol I Nyoman Punia, serta pihak TNI, turun ke Distrik Beoga untuk mendamaikan perang saudara tersebut.

Dalam perdamaian ini, penegakan hukum positif sudah diberlakukan. Bahkan kedepan jika ada lagi terjadi perang, maka proses hukum akan tetap ditegakkan. “kita mulai menegakkan hukum, apalagi kita sudah punya aparat penegak hukum. Ada Polres, ada Kodim dan Koramil. Siapa berbuat salah dialah yang menanggung akibat hukuman. Kasus ini akan menjadi efek jera, tidak boleh lagi main hakim sendiri, adat atau angkat panah lagi,” tegas Kapolres.

Yang menarik dalam misi perdamaian ini, ternyata ada informasi di lokasi perang saudara sudah lebih dulu ada Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) lengkap dengan senjata. Sehingga Bupati bersama dengan pimpinan TNI-Polri yang ada di Distrik Beoga, para pimpinan dan anggota DPRD, tokoh agama, kepala suku, berkoordinasi apakah tim Bupati yang akan turun ke lokasi perang dikawal oleh TNI-Polri, atau Bupati dan rombongan sendiri ke lokasi perang saudara tanpa dikawal oleh anggota TNI-Polri.

Setelah melakukan berbagai koordinasi, akhirnya diambil keputusan bahwa rombongan Bupati dan DPRD atau sipil saja yang bisa ke lokasi perang, tidak didampingi oleh TNI-Polri, demi mencegah terjadi kontak senjata dengan pasukan TPN-OPM.

“Misi utama kita adalah ke sana untuk mendamaikan perang saudara, ternyata sudah ada  pasukan TPN-OPM di sana. Sehingga kami lakukan koordinasi dengan Kapolres, Danramil Beoga, akhirnya disepakati saya bersama DPRD saja yang ke lokasi perang, sementara TNI-Polri tidak ke sana, tetap saja di ibu kota distrik. Sebab sudah ada TPN-OPM yang sudah mengirim informasi bahwa mereka siap menjaga keamanan Bupati dan siap juga membantu dalam proses perdamaian  perang saudara di sana,” ujar Bupati Willem Wandik.

Menurut Bupati, saat sampai di lokasi perang, tim Bupati benar-benar dikawal ketat oleh militer TPN-OPM. Bahkan video dan gambar pun dilarang diambil, karena mereka menggunakan senjata lengkap. Namun kehadiran pasukan TPN-OPM justru ikut menjaga keamanan dan ikut membantu Bupati dan rombongan, dimana mereka ikut mendesak juga dalam proses perdamaian adat kedua kubu yang berperang, sehingga proses perdamaian bisa berjalan dengan cepat.

Bahkan mereka ikut menangkap pelaku perang dan menyerahkan ke Bupati. Proses perdamaian inipun terbilang tercepat dalam sejarah perang saudara di Kabupaten Puncak termasuk di wilayah pegunungan tengah, karena berdamai hanya dalam waktu 3 hari.

“Biasanya kalau perang adat begini makan waktu yang cukup lama, karena saling balas. Namun proses perdamaian kali ini merupakan sejarah, karena tercepat. Perang hanya tiga hari, langsung kami turun dengan dukungan TPN-OPM, membantu mengamankan suasana. Akhirnya proses perdamaian secara adat bisa jalan dengan cepat, belah kayu dan patah panah dilaksanakan, kedua belah pihak sudah berdamai, berjabat tangan,” kata Bupati Wandik.

“Bahkan oknum penyebab perang saudara langsung diamankan oleh pasukan TPN-OPM, dan mereka langsung menyerahkan pelaku kepada kami untuk selanjutnya kami bawa untuk diproses sesuai dengan hukum positif yang berlaku di negeri ini,” tambah  Bupati.

Bupati menambahkan, kehadiran pasukan TPN-OPM di lokasi perang agar jangan disalah artikan. Karena mereka juga memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin agar jangan ada pertumpahan darah lagi antara warga yang terlibat perang dan daerah Beoga tetap aman. Sehingga kehadiran mereka cukup membantu dalam proses perdamaian ini.

“Pasukkan TPN-OPM juga mendesak agar kedua belah kubu yang berperang segera damai dan jangan lagi ada saling balas. Jika ada yang saling balas, maka TPN-OPM akan turun dan mengamankan para pelaku,” tegasnya.

Kata Bupati, prosesi adat perdamaian ini juga terjadi tepat di masa Paskah, Jumat Agung. Artinya misi Tuhan Yesus hadir di dunia adalah keselamatan, kedamaian, menyelamatkan manusia melalui Kayu Salib, untuk menuju kehidupan dan makna itu secara tidak langsung sudah dilakukan oleh kedua belah kubu.

“Wujud konkrit dari kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus itu terjadi saat proses perdamaian ini. Segala perbuatan perang, warga mati, semua sudah didamaikan dengan adanya kebangkitan Tuhan Yesus setelah mati di Kayu Salib,” tambah Bupati.

Sementara itu, Kapolres Puncak Kompol I Nyoman Punia mengatakan misi utama Bupati adalah mengamankan warganya yang sedang perang. Sehingga ketika pihaknya mengetahui ada anggota TPN-OPM di lokasi perang, pihaknya lebih memilih untuk menahan diri. Semua demi satu tujuan, adalah perang saudara harus segera diselesaikan, dan pelaku diamankan. Sebab jika kehadiiran aparat TNI-Polri di lokasi perang, maka sudah dipastikan akan terjadi kontak senjata, maka misi pertama perdamaian antara warga yang bertikai bisa batal.

“Kita menahan diri, yang utama adalah perdamaian antara kedua belah pihak bisa aman. Ternyata sudah aman dan satu pelaku sudah kita amankan. Dan kita akan antara ke Ilaga untuk selanjutnya diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di negera ini,” ujar Kapolres.

Kapolres juga mengimbau agar jangan lagi ada perang saudara. Karena perang saudara hanya membawa kerugian besar bagi warga, hilang nyawa, harta dan benda. Bahkan anak dan istri bisa menjadi korban, masyarakat sendiri yang rugi. Jika ada persoalan maka Kapolres meminta agar diserahkan kepada aparat keamanan, sehingga hukum yang akan ditegakkan, bukan pakai angkat panah lagi.

Usai prosesi adat dilakukan penandatanganan surat pernyataan oleh para tokoh dari kedua belah pihak, jika ada yang berani mengulang maka konsukuensi hukum siap diterima oleh siapa yang berani angkat panah.(diskominfo puncak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *