oleh

DPRD Puncak Harap Tidak Ada Lagi Perang

*Baik di Puncak maupun di Timika

*Pasca Perdamaian antara Marga Manga dengan Kum

TIMIKA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Puncak berharap agar tidak terjadi lagi pertikaian di antara warga masyarakat khususnya di Puncak dan Timika, pasca perdamaian yang telah dilakukan di Kampung  Julukoma, Distrik Beoga, Jumat (2/4) lalu, terkait perang saudara yang melibatkan dua kelompok warga karena permasalahan antara marga Manga dengan Kum.

Ketua DPRD Puncak Lukius Newegalen, SIP di Timika, Senin (5/4) mengatakan dirinya bersama beberapa anggota DPRD Puncak terlibat langsung dalam proses perdamaian tersebut. Sehingga apa yang sudah diperjuangkan ini diharapkan bisa diterima oleh semua pihak, baik warga di Puncak maupun di Timika. Sebab dalam kasus tersebut kedua belah pihak baik marga Manga dan Kum telah menyatakan masalah ini selesai.

“Kami datang, saya dengan Waket (wakil ketua) satu dan dua serta Wakil Komisi A ke lokasi perdamaian. Kedatangan kami untuk mendukung proses perdamaian. Dan semua pihak telah menyatakan bahwa perang ini sudah selesai. Malahan pelakunya telah ditahan di Polres Puncak untuk menjalani proses hukum,” ungkap Luki, sapaan Lukius.

“Jadi tidak boleh lagi ada aksi balas-balas apalagi di Timika. Sebab pihak korban, orang tua, kakak, adik semua telah setuju untuk pelakunya telah ditahan. Kalau perang ini diulang, berarti itu masalah baru. Bukan yang sudah diselesaikan itu,” sambung Luki.

Dirinya menegaskan hal ini, sebab sebagai wakil rakyat tentu akan membela masyarakat agar tidak ada lagi korban akibat perang. Apalagi yang terjadi di Beoga pada Maret lalu itu sebenarnya bukan perang suku. Melainkan perang atau pertikaian antar kerabat sendiri.

Wakil Komisi A DPRD Puncak, Menas Mayau, STh membenarkan hal itu. Menurut Menas, pertikaian antara marga Manga dengan Kum bukan orang dari luar. Melainkan keluarga, saudara. Sehingga kehadiran sejumlah anggota DPRD dalam prosesi itu sudah dinantikan oleh masyarakat, khususnya bagi mereka yang bertikai.

“Apa yang kami sampaikan, bahwa perang itu harus berakhir, diterima oleh mereka (korban dan pelaku, red). Mereka sudah terima, baik orang tua dari pihak korban, saudara-saudaranya mereka sudah sepakat agar perang berakhir. Bahkan kehadiran TPN OPM di lokasi itu juga diterima oleh mereka. Sehingga perangnya juga tidak terlalu meluas ke mana-mana,” beber Menas.

Lanjut Menas, setelah proses perdamaian itu, pemerintah dan DPRD menegaskan beberapa hal. Pertama pelaku harus menjalani proses hukum dan kedua penyelesaian secara adat juga harus dilakukan. Dan dua proses ini telah diterima.

“Nantinya yang proses adat diserahkan kepada mereka, keluarga dua pihak ini untuk dilaksanakan. Kalau untuk proses hukum pelaku sudah ditahan hari Sabtu lalu di Polres Puncak. Jadi kami dari DPRD, pemerintah Puncak, hamba-hamba Tuhan mau perang itu “mati”, Artinya selesai. Jangan terulang lagi. Kalau satu kali sudah aman, berarti seterusnya aman. Kalau terulang lagi, mungkin di Puncak atau di Timika, kami sepakat itu perang baru. Dan pelakunya tetap harus diproses hukum juga,” tegasnya.

Wakil Ketua II DPRD Puncak, Elpiau Hagawal, SSos menambahkan bahwa korban masih merupakan anaknya juga. Dan ia kembali menegaskan bahwa permasalahan yang terjadi di Beoga tersebut telah selesai. Sehingga jika ada terjadi perang baik di Puncak maupun di Timika, maka itu masalah lain lagi sehingga ia meminta kepada aparat keamanan untuk bertindak.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *