oleh

Sekolah Asrama Taruna Papua Tetap Semangat Belajar di Tengah Pandemi

TIMIKA – Covid-19 mengubah tatanan hidup masyarakat luas. Tidak hanya di bagian kesehatan dan ekonomi, tetapi wabah tersebut pun berdampak bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah mengubah dan menyesuaikan kurikulum sampai pada aturan pembelajarannya. Pembelajaran awalnya dilakukan secara tatap muka dialihkan secara serentak dan menyeluruh menjadi daring (dalam jaringan). Sejak adanya Surat Edaran no. 4 tahun 2020 dari Menteri Pendidikan dan kebudayaan yang menganjurkan seluruh kegiatan di institusi pendidikan harus mengikuti protokol kesehatan seperti menjaga jarak kegitan pembelajaran dilakukan dengan pemanfaatan media elektronik. Surat Edaran no.4 tersebut menindaklanjuti Surat Keputusan Pemerintah Indonesia per 13 Maret 2020 yang menyatakan bahwa Covid-19 adalah pandemi.

Dalam rangka melaksanakan pembelajaran dan tetap mengikuti protokol kesehatan, pada tanggal 25 Maret 2020 Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) melakukan Pembatasan sosial atau lockdown. Seluruh warga SATP mulai dari guru, staf, karyawan, hingga siswa SD-SMP dikarantina di lingkungan SATP dengan protokol kesehatan yang ketat.

Waka Kurikulum SPM Soniato Kuddi, mengatakan selama masa karantina atau pembatasan sosial, seluruh siswa SATP mengisi waktu dengan kegiatan pembelajaran, merawat lingkungan dengan menanam berbagai jenis tanaman bunga dan tanaman pangan di sekitar lingkungan SATP. Siswa belajar bercocok tanam mulai dari pembibitan sampai pada kegiatan panen. Untuk melestarikan kearifan lokal siswa menanam keladi, merawat dan panen pada bulan Desember 2020 bertepatan dengan perayaan Natal. Seluruh siswa SATP begitu antusias melakukan kegiatan bercocok tanam dalam mengisi masa karantina.

Lingkungan SATP dipenuhi dengan tanaman yang asri dengan ditanami beberapa jenis bunga yang indah, antara lain bunga jengger ayam (Celosia Cristata Linaeus), bunga sepatu (Hibiscus Rosa-Sinensis), bunga lavender (Lavandula Angustivolia), bunga teratai (Nymphaea), dan masih banyak jenis bunga yang lainnya. Bermula dari menanam keladi sampai terciptalah 3 laboratorium alam yaitu Laboratorium Kultur Jaringan green house, Laboratorium Flora & Fauna lestari, Laboratorium Kearifan Lokal Pengendalian Vektor Malaria. Laboratorium-laboratorium tersebut menjadi media pembelajaran  siswa-siswa  SATP dipadukan dengan teknologi informasi seperti SmartTV dan Microsoft office 365.

Kegiatan selama masa karantina kata Soniato, diisi dengan melestarikan lingkungan sekolah asrama dan terciptalah sekolah asrama yang asri (green school) di tengah masa pandemi.

“Selain terciptanya beberapa laboratorium alam yang berisi bunga-bunga dan tanaman-tanaman yang indah, kami juga mempunya greenhouse. Di dalam greenhouse ini kami membudidayakan tanaman-tanaman. Tidak hanya bunga yang kami budidayakan, tetapi juga tanaman yang dapat dikonsumsi seperti kacang panjang, kacang hijau, cabai, ketimun dan lain sebagainya. Greenhouse tersebut kami gunakan dan budidayakan juga untuk kegiatan ektrakurikuler siswa siswi SATP,” bebernya.

Selain dengan hasil greenhouse dan tanaman-tanaman yang membuat lingkungan sekolah yang asri, untuk menciptakan keasrian lingkungan SATP juga membudayakan siswa siswi untuk berjalan teratur dengan satu barisan (one line-hands back). Budaya jalan satu baris (one line) membuat siswa siswi lebih teratur dan disiplin. Seluruh kegiatan didukukung oleh sarana prasarana yang memadai dari Yayasan Pendidikan Lokon dan YPMAK selaku pemilik sekolah.

Kelangsungan dan terlaksananya pendidikan yang bermutu di SATP tidak lepas dari dukungan lembaga-lembaga yang menaungi SATP, seperti PT Freeport Indonesia (PTFI) sebagai penyedia dana kemitraan yang dikelola oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) yang merupakan sebuah badan pengurus dan badan musyawah yang terdiri dari wakil-wakil pemerintah lokal, para tokoh Papua sebagai pemimpin lokal masyarakat Amungme dan Kamoro. Dana kemitraan tersebut digunakan secara maksimal dan direaliasasikan oleh Yayasan Pendidikan Lokon (YPL).

“Berkat dukungan material maupun immaterial dari stakeholders, pengelolaan serta perencanaan yang bersinergi jadilah kami SATP yang sekarang ini. Dimasa pandemi kami tetap dapat dan semangat belajar untuk mendidik, mengajar, dan membimbing putera-puteri Papua Suku Amungme, Kamoro, dan lima Suku Kekerabatan lainnya yang ada di Papua. Berkat itu juga saat ini, per 18 Januari 2021 memasuki awal semester baru kami dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan mematuhi protokol kesehatan secara penuh,” ujarnya.

“Kami seluruh warga SATP tetap tinggal di lingkungan SATP dan secara berkala kami melakukan tes swab antigen terlebih ketika kita (warga SATP) harus ada kegiatan di luar lingkungan SATP,” imbuh Soniato.(*/ale)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *