oleh

Tokoh Agama Sayangkan Aksi Kekerasan di Puncak

TIMIKA – Aksi yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Kabupaten Puncak masih belum berakhir. Pada Minggu (25/4) Kepala BIN Daerah (Kabinda) Papua, Mayjen TNI Anumerta I Gusti Putu Danny Karya Nugraha gugur dalam aksi baku tembak di Kampung Dambet, Distrik Beoga, Puncak. Kekerasan yang dilakukan oleh kelompok yang berseberanan ideologi dengan Indonesia ini pun menuai banyak kecaman.

Wakil Ketua Klasis Gereja Protestan Indonesia – GPI Papua Mimika, Pendeta Ferdinans C Hukubun turut menyayangkan aksi KKB yang bukan hanya menewaskan prajurit TNI, tapi juga yang telah mengorbangkan rakyat sipil dan merusak fasilitas umum dan rumah-rumah warga.

“Saya sangat menyesali apa yang telah dilakukan (oleh KKB, red). Karena perbuatan itu sangat tidak manusiawi,” kata Pdt Hukubun.

Karena itu lanjutnya, ia berharap agar TNI, Polri dan pemerintah untuk segera melakukan penegakan supremasi hukum. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pendidikan bagi seluruh warga Negara Indonesia.

“Penegakan supremasi hukum juga sebagai koreksi, bahwa warga yang tidak tertib harus menerima konsekuensi dari perbuatannya,” tegasnya.

Penegakan hukum terhadap KKB menurut Pdt Hukubun, juga sebagai bentuk dari asas keadilan sosial bagi masyarakat. Sebab yang telah menjadi korban di sini bukan hanya aparat penegak hukum, melainkan juga masyarakat sipil. Bahkan masyarakat yang menjadi korban ini adalah pihak-pihak yang sebenarnya hadir di tanah Papua khususnya di Kabupaten Puncak, untuk mendidikan anak-anak generasi Papua yang akan membangun tanah leluhurnya sendiri kelak.

Pdt Hukubun pun mengajak dan mengimbau seluruh warga khususnya yang tinggal di tanah Papua, untuk bersama-sama memerangi kejahatan dan menjaga tanah Papua agar selalu aman dan damai.

“Sesuai filosofi, Papeda, Papua Penuh Damai. Mari kita semua menjaga tanah Papua yang kita cintai ini,” ajaknya.

Ia mengajak masyarakat untuk hidup dengan kasih dan damai di tanah Papua, agar menjadi berkat bagi Tuhan, sesama dan menjalin perbedaan dalam bingkai NKRI, Bhineka Tunggal Ika.

Terkait dengan korban Kabinda Papua, Pdt Hukubun mengatakan bahwa almarhum merupakan sosok yang mencintai Papua. Dan ia pun begitu dicintai oleh rakyat Papua. Namun kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab telah mencoreng dan merusak citra masyarakat Papua.

“Saya selaku tokoh agama menyampaikan duka cita yang mendalam. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tukasnya.

Seperti diketahui, rentetan aksi teror dilakukan KKB pada Kamis (8/4) dengan korban seorang guru, Oktovianus Rayo. Setelahnya pada Jumat (9/4) giliran KKB menembak mati seorang guru lainnya bernama Yonatan Randen. Tukang ojek bernama Udin juga tidak luput dari sasaran KKB, yang ditembak mati pada Rabu (14/4). Dan hanya sehari setelahnya, Kamis (15/4) KKB kembali menembak warga sipil yang masih merupakan pelajar SMA bernama Ali Mom. Kemudian pada Minggu (25/4) Kabinda Papua, Mayjen TNI Anumerta I Gusti Putu Danny Karya Nugraha juga gugur akibat ulah KKB.

Terbaru, kontak tembak di Kampung Mayuberi, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Selasa (27/4) sekitar pukul 08.00 WIT menewaskan seorang anggota Polri bernama Bharada I Komang Wira Natha dan melukai dua rekannya. Sementara dari pihak KKB juga diduga ada korban.

Selain korban jiwa, KKB juga melakukan pembakaran terhadap bangunan sekolah dan rumah-rumah milik warga, sehingga aksi mereka mendapatkan kecaman dari berbagai pihak.(rdr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *