oleh

Penantian Hampir 10 Tahun, Perang Saudara di Puncak Berakhir

*Setelah Dilakukan Berbagai Tahapan Prosesi Adat
ILAGA – Prosesi adat dalam rangka mengakhiri perang saudara dampak dari Pemilukada 2011 lalu, atau yang disebut dengan nama perang karibo, akhirnya berakhir sejak Senin (3/5). Itu ditandai dengan adanya pembentangan tali keselamatan, pembakaran honai perang dari suku Alom Magai di wilayah Distrik Ilaga, serta buah panah ke pohon ke arah kali Jilame, sebagai lokasi perang saat itu yang membagi Distrik Gome dan Ilaga, serta beberapa tahapan ritual adat menuju perdamaian yang semua sudah berakhir.

Dengan berakhirnya prosesi adat ini, maka dengan sendirinya kedua belah kubu yang selama ini berkonflik sejak 2011 lalu, baik di kubu pokok perang Elvis Tabuni di wilayah Distrik Gome dan kubu Alom Magai di wilayah Distrik Ilaga, sudah berakhir dan kedua belah pihak sudah berdamai secara adat.

Dengan demikian kehidupan damai, tali persaudaraan antara kedua belah pihak sudah bisa kembali hidup rukum lagi, para pokok-pokok perang bisa kembali makan bersama, jalan bersama sebagai satu keluarga lagi.

Bupati Puncak Willem Wandik, SE MSi mengatakan sebagai pemerintah tetap menghormati prosesi adat, sebab adat itu ada sebelum ada pemerintah dan agama. Di satu sisi dampak dari kehadiran pemerintah ada pesta demokrasi dan akhirnya ada perang antara kedua belah kelompok, sehingga pemerintah berkewajiban juga untuk memfasilitasi perdamaian. Dan sebagai anak adat juga maka dirinya ikut membantu dalam prosesi adat ini.

Kata Bupati, jika prosesi adat ini tidak dilakukan, maka sampai kapanpun suasana kedamaian di Ilaga tidak ada. Karena pokok-pokok perang dari kedua belah pihak belum bisa duduk bersama, makan bersama, bahkan ancaman kesakitan dan kematian dari adat ini akan terus menghantui para kelompok yang berperang. Nah, untuk mengakhiri itu, maka prosesi adat ini harus dilakukan.

Prosesi adat ini, maka secara adat juga kedua belah pihak yang bertikai sejak 2011 lalu, sudah bisa berdamai dan duduk bersama, makan bersama tanpa rasa curiga atau akan sakit lagi, perdamaian abadi akan tercipta di Ilaga.

“Puji Tuhan, setelah hampir 10 tahun maka prosesi adat itu bisa selesai dengan pembakaran honai perang. Termasuk tali keselamatan dan kini kedua belah pihak sudah bisa berdamai, dan jalan bersama lagi seperti sedia kala baik di pokok-pokok perang di Distrik Gome dan kami di Ilaga. Suasana ini yang kami inginkan dan sudah menanti selama 10 tahun,” ujar bupati.

“Proses adat ini, untuk Alom Magai, baru dilakukan. Saya bersyukur pada Tuhan, proses sudah hampir 10 tahun. Terima kasih kepada keluarga besar Alom Magai. Adat ini tidak segampang kita bicara, butuh proses dan ini proses adat sudah dilaksanakan dengan tali yang diatur melingkari kita, akhirnya akan menjaga masyarakat Puncak dari sakit,” sambung dia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *