oleh

Penantian Hampir 10 Tahun, Perang Saudara di Puncak Berakhir

Sementara Usai Alom, salah satu kepala perang, menjelaskan dengan dilakukan prosesi adat ini, maka dengan sendirinya persoalan adat, perang suku sudah damai dengan adanya tali yang dibuat secara adat, maka sudah menjaga masyarakat tidak lagi sakit.

“Dengan adanya tali yang dibuat oleh kepala perang, mengelingi masyarakat di sini, menandakan bahwa lingkar tali keselamatan, sudah tidak ada sakit, perang, roh-roh kejahatan sudah diusir. Secara adat kami sudah damai dan prosesi ini sudah sah menurut adat. Tali ini sudah lingkar masyarakat di Ilaga,” jelasnya.

Sementara itu, hal yang sama juga ditambahkan oleh Melianus Hagabal, salah satu kepala suku di Ilaga. Ia menjelaskan prosesi tali keliling kelompok orang itu menandai bahwa orang-orang yang ada di dalam pagar taIi itu sudah diselamatkan dari roh-roh jahat. Artinya roh-roh jahat yang pernah diundang dalam perang itu tidak melihat kelompok ini selama beberapa turunan.

“Selanjutnya ada prosesi siram air menandakan matinya roh jahat, kemudian dilanjutkan dengan panah pohon ke arah kali Jilame atau lokasi perang, itu semua sikap kejahatan selama ini dalam perang sudah dibuang ke kali, sehingga muncul kehidupan baru yang damai lagi antara kedua belah kelompok di Distrik Gome dan Ilaga,” bebernya.

“Suasana sudah kembali damai, maka pokok-pokok perang bisa berdamai bebas jalan ke Gome, dari Gome juga sebaliknya bisa ke Ilaga. Bebas beraktvitas, bebas makan bersama, tanpa ada permusuhan lagi,” tukasnya.(Diskominfo Puncak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *