oleh

Salat Id, YMM Kuala Kencana Terapkan Prokes Ketat

TIMIKA – Tahun ini kedua kalinya Hari Raya Idul Fitri dirayakan umat Islam di tengah pandemi Covid-19. Momen Idul Fitri atau Lebaran biasanya dimanfaatkan untuk saling memaafkan dan berkumpul dengan keluarga. Akan tetapi, di tengah pandemi virus corona yang melanda dunia, memaksa semua orang untuk tetap di rumah, meminimalisir pertemuan dan mobilitas, sehingga tak bisa merayakan Lebaran seperti dalam kondisi normal. Bahkan, pemerintah Indonesia telah melarang masyarakat melakukan perjalanan mudik.

 

Di lingkungan perusahaan PT Freeport Indonesia (PTFI) penerapan protokol kesehatan menjadi persyaratan yang wajib dipatuhi oleh seluruh karyawan baik dalam dunia kerja, dalam beribadah, dalam berinteraksi dengan sesama dan dalam kehidupan pribadi. Hal ini semata untuk membatasi penularan dan penyebaran virus Covid-19.

 

Penerapan protokol kesehatan secara ketat diterapkan Yayasan Masyarakat Muslim (YMM) PTFI dataran rendah saat pelaksanaan Salat Id 1 Syawal 1442 Hijriah di Masjid Baiturrahim Kuala Kencana, Kamis (13/5) pagi. Salat Id di Kuala Kencana di hadiri sekira 300 warga muslim dari karyawan dan keluarga yang tinggal di area Kuala Kencana.

 

Tahun ini pelaksanaan Salat Id di masjid Baiturrahim Kuala Kencana dilakukan secara terbatas, jamaah dari luar Kuala Kencana tidak diperkenankan untuk mengikuti. Sosialisai pembatasan ini sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya melalui surat pemberitahuan kepada pemerintah daerah dan secara internal melalui inter office memo. Salat Id di lingkup PTFI área dataran rendah dilaksanakan di empat tempat yaitu di Masjid Baiturrahim Kuala Kencana, Masjid Annimah Mill 38, Masjid Al-Istiqamah Basecamp, dan Masjid Al-Iklas Portsite.

Ketua YMM PTFI dataran rendah, Muhamad Isnadi menjelaskan bahwa bagi jamaah yang ingin mengikuti Salat Id diharuskan mengisi aplikasi pendataan yang dapat diunduh melalui perangkat telepon genggam (handphone) masing masing. Setelah melakukan pendaftaran dan mengisi data sesuai yang disyaratkan, jamaah akan mendapatkan QR Code. Sebelum masuk area masjid, jamaah harus di scan QR Codenya oleh panita, pengukuran suhu tubuh, wajib memakai masker dan menempati tempat salat sesuai nomor yang sudah dibagikan saat scan QR Code. Jarak antar jemaah saat melaksanakan salat pun di atur minimal satu setengah meter. Dan ketika salat sudah selesai jamaah dilarang untuk saling berjabat tangan. Hal tersebut dilakukan guna mencegah dan membatasi penularan virus Covid-19.

Pada kesempatan tersebut Muhamad Isnadi juga menyampaikan terima kasih kepada perusahaan yang telah memberikan ijin melaksanakan ibadah. Isnadi juga menyampaikan laporan pertanggung jawaban pengumpulan dan pendistribusian zakat fitrah. Hasil pengumpulan zakat fitrah disalurkan bagi 2.349 anak anak yatim piatu dan dhuafa di Kabupaten Mimika pada Minggu 9 Mei 2021.

“Kami (YMM-red) mendistribusikan zakat fidyah dan fitrah di wilayah Timika dan sekitarnya totalnya sebanyak Rp 219 juta. Penyaluran zakat fitrah untuk luar Papua sebesar Rp 53 juta,” Jelas Isnadi.

Salat Id di Kuala Kencana dipimpin oleh KH. Khairul Muttaqin LC Al Hafiszh selaku imam dan khatib. Dalam ceramahnya Khairul Muttaqin berpesan supaya seluruh jamaah melakukan instropeksi diri sehingga hikmah Ramadan yang telah dilewati tidak begitu saja dilupakan. ”Pada saat puasa Ramadan kemarin kita sudah bersama-sama menahan semuanya, menahan lapar, menahan amarah, kini dengan datangnya Idul Fitri mari kita sambut dengan gembira dengan berbagi dengan sesama kita, karena itulah berkah yang diberikan oleh Allah. Setelah ramadhan jangan lupa ibadahnya, yang membaca Al-Qur’an dan shalat malam terus dilaksanakan, jangan melakukan hanya saat bulan ramadhan saja, tapi tetap berlanjut terus. Apalagi pada saat seperti ini, masa masa-masa sulit karena adanya pandemi, kita harus semakin mendekatkan diri kepada Allah, selalu mohon petunjuk-Nya.” pesan Muttaqin.

Muttaqin juga menjelaskan, puasa, salat, tadarrus merupakan bagian permukaan. Bagi seseorang yang telah mencapai tingkat spiritualis, ibadah-ibadah itu mampu mempertajam kesadarannya dan memiliki daya perintah untuk terus berbuat baik. Ia menyebutkan, betapa banyak orang yang menjalankan ibadah tapi memiliki perilaku yang kurang baik, korupsi, dan lain-lain. “Banyak orang rajin salat tapi tetap korupsi, berperilaku tidak terpuji, itu artinya salat yang tidak punya daya perintah yang baik,” ujarnya. “Jadi ibadah itu phisically bisa kita lihat, tapi apakah itu bisa mencegah perilaku jahat? Kalau tidak ada daya perintah, maka ritual hanya permukaan saja (ta’abbud jasmani),” pungkasnya.(*/ale)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *