oleh

Petani Padi SP 7 Hasilkan 6 Ton Gabah

TIMIKA – Para petani padi di Kampung Mulia Kencana sudah sampai di akhir masa panen. Hasil yang didapatkan petani diperkirakan mencapai 6 ton per hektar. Hal itu diungkapkan Penyuluh Pertanian Distanub Mimika yang ditugaskan di wilayah Distrik Iwaka, Kibar dan Ketua Kelompok Tani Karya Mandiri, Norbertus ketika ditemui, Senin (17/5) kemarin.

Untuk jenis varietas padi yang dikembangkan, Norbertus mengatakan masih terus dilakukan uji coba untuk mencari varietas yang cocok. Sejauh ini varietas yang sudah dicoba dan cukup maksimal adalah Inpari 43, Inpari 32 dan Inpari 7.

Saat ini sesuai dengan instruksi dari Kementerian Pertanian dan juga bibit yang disalurkan oleh Dinas Tanaman Pangan Perkebunan dan Hortikultura, maka petani sedang melakukan uji coba varietas Inpari IR Nutri Zinc.

Penyuluh Pertanian Distanub Mimika yang ditugaskan di wilayah Distrik Iwaka, Kibar mengungkapkan hampir semua varietas padi cocok ditanam di SP 7. Namun cuaca di Mimika yang tidak menentu sangat berdampak pada pertumbuhan padi yang ditanam. Masa tanam yang dinilai paling cocok pada bulan Juli sehingga pada Agustus sampai Oktober sudah bisa panen dengan cuaca yang mulai membaik.

Begitu juga dengan hama. Seperti yang menyerang padi milik petani kali ini sehingga hasilnya tidak maksimal. Seperti walang sangit, hama penggerek batang. Pestisida yang disiapkan oleh Distanbun disebut tidak mempan sehingga hama merusak tanaman.

Jadinya kata Kibar, hasil panen yang harusnya bisa mencapai 8 ton per hektar kini hanya bisa menghasilkan 6 ton gabah. Adapun sawah di SP 7 yang kini digarap petani mencapai 25 hektar. “Kalau tidak diserang hama hasilnya bisa sampai 8 ton per hektar,” ujarnya.

Adanya bantuan dari Pemda Mimika melalui Distanbun diungkapkan Norbertus sangat membantu petani. Mulai dari penyediaan bibit, pupuk, obat-obatan hingga alat pertanian. Mengingat jumlah petani yang semakin berkurang maka Distanbun memberikan bantuan alat pertanian yang lebih moderen seperti mesin tanam hanya saja belum digunakan, traktor pemotong padi namun karena kondisi tanah yang lembek maka tidak bisa digunakan. Ada juga mesin penggilingan padi yang dikelola oleh salah seorang warga. Untuk biaya operasionalnya dihargai Rp 1.500 per kilogram hasil gilingan.

Saat ini ada sekitar 70 petani di SP 7 yang aktif menggarap sawah. Menurut Kibar, petani mulai tertarik menanam padi karena keuntungan yang didapatkan lumayan. Dari hasil panen, sebagian dikonsumsi dan lainnya dijual apalagi peminatnya cukup banyak. “Saya sebagai penyuluh selalu turun langsung untuk memberikan motivasi kepada petani supaya terus produktif,” ujarnya.(sun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *