oleh

PTFI Serahkan Dua Jembatan Gantung kepada Masyarakat

* Di Distrik Hoeya

* Total Sudah Bangun 28 Jembatan Gantung Permanen di Pegunungan

TIMIKA – Sebagai wujud perhatian kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional tambang, PT Freeport Indonesia telah membangun berbagai infrastruktur untuk memudahkan masyarakat, salah satunya jembatan. Total sudah ada 28 jembatan yang dibangun di wilayah pegunungan, termasuk dua jembatan gantung permanen di Distrik Hoeya.

Dua jembatan gantung permanen itu menghubungkan Kampung Jinoni ke Kampung Kulamaogom dengan panjang 140 meter dan kampung Dalmaogom ke kampung Mamotoga sepanjang 150 meter di Distrik Hoeya, Kabupaten Mimika, Papua. Biaya pembangunan dua jembatan gantung tersebut mencapai nilai Rp 8 miliar.

Dua jembatan yang dibangun PTFI di Distrik Hoeya secara resmi diserahkan kepada pemerintah distrik pada Jumat (18/6) di Hotel dan Resto Cenderawasih 66. Berita acara serah terima ditandatangani oleh Kepala Distrik Hoeya, Karel Kum dan Vice President Community Development PTFI, Nathan Kum, disaksikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Mimika, Robert Mayaut dan para kepala kampung.

Serah terima jembatan gantung oleh VP Community Development PTFI, Nathan Kum (tiga dari kanan) kepada Kepala Distrik Hoeya, Karel Kum disaksikan Kepala Dinas PUPR Mimika, Robert Mayaut, Jumat (18/6).

 

Jembatan Kampung Jinoni ke kampung Kulamaogom merupakan akses bagi warga dari Hoeya dan Tsinga yang hendak bepergian ke Jila, Bela, Alama dan kampung-kampung disekitarnya. Sedangkan Jembatan Dalmaogom ke Mamontoga menghubungkan dua kampung yang dipisahkan sungai Jinogong yang sangat lebar dan berarus deras.

Jembatan ini memberikan kemudahan bagi masyarakat kedua kampung tersebut, yang menghubungkan sampai ke pusat pelayanan masyarakat seperti kantor distrik dan fasilitas kesehatan yang ada di Kampung Dalmaogom. Juga sekolah yang ada di Kampung Kulamaogom yang kini hanya bisa ditempuh selama 30 menit dari Kampung Jinoni. Sebelumnya perjalanan dari Kampung Dalmaogom ke Kampung Mamontoga sekitar 12 jam.

Lembah Hoeya merupakan salah satu area pelayanan Community Relation PTFI dan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK). Penduduk lembah Hoea adalah suku Amungme yang sangat erat kekerabatan dengan suku Amungme di tiga lembah lainnya, yakni Tsinga, Waa, dan Aroanop. Lembah Hoeya terdiri dari 6 kampung, yang jika diurutkan dari hilir ke hulu adalah Kampung Puti (kampung di muara), Kampung Jaba, Kampung Kulamaogom, Kampung Jinoni, Kampung Dalmaogom dan Kampung Mamontoga (kepala air).

Lembah Hoeya dibelah oleh aliran sungai besar, yaitu sungai Hoeanogong, yang merupakan sungai besar pertemuan dari aliran-aliran sungai kecil lainnya yang mengalir ke lembah Hoeya. Sebelumnya warga membangun jembatan menggunakan kayu-kayu seadanya dan harus berpegangan pada beberapa utas rotan-rotan di atas sungai Hoenogong yang sangat lebar dan deras serta sangat beresiko.

Vice President Community Development PTFI, Nathan Kum, menjelaskan bahwa sebagai mitra pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan Papua, terutama wilayah di sekitar areal operasi perusahaan, PTFI sudah, sedang dan akan terus berkontribusi bagi pembangunan masyarakat dan wilayah yang berkesinambungan dengan tetap memperhatikan nilai-nilai budaya masyarakat lokal.

“Jembatan gantung di Hoeya, adalah satu bukti kolaborasi positive antara masyarakat, pemerintah dan PTFI. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai SINCERE (Safety, Integrity, Commitment, Respect, dan Excellence) PTFI yang menjadi dasar bagi hubungan PTFI dengan para pemangku kepentingan. Terimakasih banyak kepada para kepala kampung, petugas distrik dan pemerintah daerah yang berinisiatif memperbaiki dan memelihara sarana umum ini,” ujar Nathan.

Lebih lanjut Nathan menjelaskan, bahwa jembatan gantung di beberapa titik adalah akses strategis untuk menghubungkan 2 titik yang terpisah, sehingga bisa ditempuh oleh masyarakat dengan waktu yang lebih singkat, dan lebih aman. Jembatan gantung ini membutuhkan pemeliharaan yang rutin, sehingga keamanan dan keselamatannya bisa dijamin.

“Keterisolasian daerah dengan topografi yang ekstrim membuat perawatan menjadi sulit dan mahal, kami sangat menghargai inisiatif dan peran serta masyarakat untuk merawat dan memelihara akses ini. Perlu keterlibatan pemangku kepentingan untuk dapat menggerakan mobilitas manusia dan ekonomi di wilayah-wilayah remote area (jauh dari jangkauan umum),” Nathan menambahkan.

Nathan mengungkapkan, dengan terbangunnya dua jembatan ini maka total sudah ada 28 jembatan yang dibangun PTFI di wilayah dataran tinggi atau pegunungan. Sebelumnya ada 11 jembatan gantung permanen di Aroanop, 4 jembatan di Banti dan 11 jembatan di Tsinga.

Untuk membangun sebuah jembatan dibutuhkan biaya yang cukup besar karena semua materialnya diangkut menggunakan helikopter. Sehingga Nathan berharap fasilitas ini dirawat oleh pemerintah dan masyarakat setempat dengan menggunakan dana desa yang dialokasikan oleh pemerintah.

Kepala Dinas PUPR Mimika, Robert Mayaut mengungkapkan memang sangat tidak mudah membangun jembatan gantung di wilayah pegunungan karena membutuhkan biaya yang cukup besar. Semua material yang beratnya berton-ton harus diangkut dengan helikopter.

Atas nama pemerintah, ia sangat mengapresiasi PTFI yang selalu berkolaborasi dengan pemerintah dalam membangun Mimika. “PTFI bukan cuma kali ini tapi sudah banyak bantu pemerintah termasuk Mimika Sport Complex dan jembatan gantung,” katanya.

Kepala Distrik Hoeya, Karel Kum menambahkan pemerintah distrik dan kampung bersama masyarakat akan berupaya untuk memelihara jembatan yang sudah dibangun oleh PTFI karena sudah lama didambakan. (sun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *