oleh

Maraknya Kabar Hoax di Indonesia

Oleh: Galang Febrian Devaramoza

KABAR palsu atau yang biasa disebut dengan “hoax” merupakan hal yang marak terjadi di era sekarang. Dengan adanya perkembangan teknologi yang serba digital, cepat, dan efektif semakin mempermudah penyebaran hoax di dunia maya. Terutama terkait kasus politik, agama dan kesehatan.

Bagaimana tidak menyebar dengan cepat? Semua di era sekarang dengan sangat sangat mudah dapat di akses dan dapat diketahui publik secara massal. Maka dari itu, masyarakat harus benar-benar pandai dalam menyaring dan menyerap informasi yang ada. Kabar hoax tidak hanya diunggah melalui situs atau laman resmi, namun juga bisa melalui berbagai aplikasi komunikasi seperti Whatsapp, Telegram, Instagram dan lain-lain.

Seiring dengan berkembangnya informasi dan berita mengenai Covid-19 yang terjadi di Indonesia, berita simpang siur pun bermunculan di tengah masyarakat dan tidak jarang membuat masyarakat semakin takut atau panik secara berlebih. Ketakukan dan kepanikan ini muncul akibat masyarakat secara mentah menerima berita yang ada di media sosial tanpa mengetahui sumber informasi yang mereka dapat. Terkadang, masyarakat juga ikut menyebarkan berita tersebut dan menyebarluaskannya. Hal ini menjadikan kasus penyebaran berita Hoax di Indonesia semakin meningkat dari hari ke hari.

Berita dan opini masyarakat yang tidak disertai dengan fakta, juga menjadikan kebijakan vaksinasi oleh pemerintah terhambat. Ada beberapa masyarakat yang sudah termakan berita hoax tentang vaksinasi dan mereka enggan untuk melakukan vaksinasi. Padahal, pemerintah berencana untuk segera menuntaskan program vaksinasi agar bisa menciptakan keamanan bersama antar masyarakat. Mereka beranggapan bahwa vaksinasi tersebut memiliki efek samping. Memang benar bahwa vaksinasi memiliki sebuah efek samping, namun sebenarnya tidak separah itu. Masyarakat tidak perlu takut dan enggan di vaksin.

Seperti yang saya katakan tadi, hal ini disebabkan oleh masyarakat sendiri yang tidak bisa mencerna dan menyaring informasi yang mereka terima. Masyarakat dengan sangat mudah menerima dan meyakini berita yang mereka dapat tanpa melihat sumber data asal berita tersebut.

Jika dilihat dari sudut pandang hukum, penyebaran hoax sangat dilarang dan diatur pada UU ITE Pasal 28 ayat 1 yang menyatakan “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik yang dapat diancam pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar”. Ini merupakan langkah pemerintah untuk menekan kasus penyebaran hoax di Indonesia. Selain itu, langkah persuasif juga terus dilakukan dan digencarkan dengan sosialisasi melalui sosial media mengenai bahaya dan dampak dari penyebaran berita bohong, baik untuk penyebar maupun masyarakat biasa.

Dikutip dari kominfo.go.id, data menyebutkan bahwa terdapat sekitar 800.000 kasus penyebaran hoax di Indonesia. Angka yang sangat tinggi bukan? Sebuah kebanggaan atau malah sebuah kesalahan? Siapa yang harus disalahkan? Rasanya, tidak ada kata yang tepat untuk menjawab itu semua.

Media sosial memang telah disalahgunakan dan dibobol oleh oknum tak bertanggung jawab yang hanya ingin meraup keuntungan finansial maupun psikologis. Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho (2017) mengatakan bahwa hoax telah menyebar di mana-mana dan jangan menimbulkan kegaduhan diantara masyarakat.

Lalu apakah tugas kita sebagai kaum pelajar? Tentu kita sebagai kaum pelajar wajib hukumnya pandai dan selektif terhadap semua berita. Tidak hanya itu, apabila kita tahu ada sebuah berita hoax yang menyebar, sudah semestinya kita ikut andil dalam pemberantasannya. Bisa dengan cara pembicaraan secara baik-baik tentang berita tersebut, ataupun dengan lantang menyuarakan bahwa berita tersebut hoax serta dibarengi dengan bukti yang lebih akurat. Jika pemerintah telah melakukan berbagai upaya dan bekerja sama dengan berbagai pihak, sepertinya kasus penyebaran berita palsu akan terus berkurang dan menekan penyebarannya.

Kasus ini memang sangat berbahaya bagi seluruh masyarakat, karena bisa saja menciptakan kegaduhan atau bahkan perpecahan di Indonesia. Karena saat ini merupakan era digital, semua dapat diakses dengan sangat mudah, hal ini menyebabkan kabar hoax bisa menyebar dengan sangat cepat. Sebagai masyarakat kita harus pandai menyaring berita yang terdengar oleh telinga kita. Kita tidak boleh menerima secara mentah-mentah terhadap kabar yang baru kita dengar. Kita harus mencari bukti yang valid dan konkrit baru kita bisa mempercayai berita tersebut. Salah satu caranya seperti memanfaatkan teknologi media sosial dalam melihat keakuratan suatu informasi di laman resmi instagram Kemenkominfo, program ini bernama Lambe Hoax di Instagram dan twitter. Maka dari itu, kita sebagai masyarakat harus lebih bijak dan selektif agar tidak mudah tertipu daya oleh hal-hal seperti hoax ini, serta gunakan nalar kita dalam memahami informasi dan selalu cek kebenarannya. (*)

 

Penulis adalah:

Mahasiswa FISIP Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *