oleh

Pro Kontra Pembelajaran Jarak Jauh di Indonesia

Oleh: Dimas Ricky Setiawan

PENDIDIKAN sudah menjadi kebutuhan masyarakat dari generasi ke generasi. Bahkan bagi beberapa orang, pendidikan menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang. Saat ini, dengan berkembangnya zaman dan teknologi, pendidikan lebih mudah dijangkau oleh segala kalangan. Hanya dengan bermodal smartphone saja, seseorang sudah bisa belajar layaknya di sekolah.

Dari awal tahun 2020, Covid-19 telah menjadi masalah besar yang menimpa Indonesia. Salah satunya di bidang pendidikan, menjadi sebab banyaknya sekolah diliburkan dalam jangka panjang. Media belajar yang awalnya tatap muka diubah menjadi sistem pembelajaran jarak jauh atau dikenal dengan sistem “daring” yang secara mendadak diterapkan di Indonesia sebagai dampak dari munculnya kasus Covid-19.

Apa yang dimaksud dengan pendidikan jarak jauh atau daring ini? Pendidikan jarak jauh merupakan pendidikan formal berbasis lembaga yang peserta didik dan pendidiknya berada di lokasi yang berbeda dan membutuhkan media elektronik sebagai media komunikasi aktif. Selama kurang lebih 2 tahun, pembelajaran jarak jauh ini telah diterapkan di Indonesia seiring dengan banyaknya pro dan kontra yang bermunculan di lingkungan masyarakat.

Mengapa daring harus dilaksanakan bahkan dalam jangka panjang? Apa tidak ada solusi selain pembelajaran jarak jauh? Dan apakah kinerja pemerintah mengenai topik ini sudah maksimal?

Pada awal penyebaran Covid-19 di Indonesia, virus ini telah memakan belasan ribu korban dan terus bertambah setiap harinya di penjuru nusantara hanya dalam kurun waktu 2-3 bulan saja. Penyebaran Covid-19 yang sangat cepat ini membuat pemerintah mengambil langkah untuk memutus rantai penyebarannya diberbagai bidang, termasuk pendidikan.

Pemerintah menetapkan kebijakan sistem daring di bidang pendidikan karena sekolah dianggap sebagai salah satu lokasi yang berkontribusi besar dalam penyebaran Covid-19 ini. Pemerintah juga telah memberikan beberapa alternatif media belajar dengan memanfaatkan alat elektronik seperti smartphone, laptop, bahkan televisi dengan harapan aktivitas belajar-mengajar masih berlangsung dan lebih menyenangkan walaupun dirumah. Tenaga pendidikpun dituntut lebih kreatif dalam memberikan materi kepada para pelajar.

Namun kemudian berbagai polemik bermunculan mengenai pembelajaran daring ini. Dari masalah sinyal buruk dibeberapa daerah, paket internet yang terlalu mahal, banyaknyapelajar yang tidak memiliki smartphone, dan banyak lagi. Bahkan pendidik dan orang tua siswa pun merasakan hal demikian. Banyak tenaga pendidik yang kesulitan menggunakan teknologi.

Perusahaan-perusahaan gulung tikar karena pandemi menyebabkan mereka harus memecat beberapa pekerjanya. Dimana kebanyakan mereka yang di-PHK adalah mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak yang masih bersekolah. Perekonomian kian memburuk sedangkan kewajiban para siswa dalam memenuhi aktivitas belajar mengajar dari rumah cukup memakan banyak biaya.Beban para orang tua pun semakin berat.Perubahan kebiasaan aktivitas belajar dari cara lama ke cara baru ini cukup memakan waktu, tenaga, pikiran dan tentu saja biaya.

Beberapa bulan kemudian, pemerintah akhirnya memfasilitasi kuota internet gratis. Hal ini memberikan sedikit kemudahan bagi pelajar dan pendidik setidaknya mereka tidak diberatkan dengan biaya kuota internet setiap bulannya. Pemerintah kerap kali mulai membuka sekolah-sekolah didaerah tertentu yang dirasa angka penyebaran Covid-19 mulai menurun dengan beberapa kebijakan yang harus dipatuhi seperti: protokol kesehatan dan masuk dengan sistem ganjil-genap. Intinya tidak memperbolehkan para pelajar berkerumun disekolah.

Kemudian masalah baru bermunculan, diantaranya yaitu keluh kesah para pelajar yang merasa pembelajaran jarak jauh ini kurang efektif. Bukan lagi masalah paket internet namun mengenai programdampak negatif sistem ini bagi para pelajar. Banyaknya materi yang harus dikuasai tidak sebanding dengan cara penyampaian  yang dilakukan oleh guru atau dosen sehingga materi yang dijelaskan kurang bahkan sama sekali tidak dipahami. Belum lagi tugas yang terus diberikansetiap hari. Mayoritas guru atau dosenberanggapan “Belajar dari rumah sangat memudahkan murid; tugas bisa dikerjakan kapan saja karena banyak waktu luang” anggapan ini tentu saja menjadi dasar mereka kecanduan memberi tugas kepada para pelajar hingga lupa mereka bukanlah robot.Terkadang nilai yang diberikanpun tidak sesuai dengan usaha pelajar.

Hal tersebut membuktikan bahwa belajar dari rumah lebih terasa berat daripadda belajar tatap muka. Terlalu banyak tuntutan yang kadang kala tidak masuk akal. Durasi kelas yang panjang, beban tugas yang berat dan aktivitas diluar kegiatan belajar mengajar seperti membantu orang tua di rumah. Semua itu tentu menguras tenaga dan pikiran, apalagi sudah terjadi selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini. Wajar jika banyak pelajar yang merasa stres. Bahkan selama pembelajaran jarak jauh ini diterapkan, sudah banyak tercatat kasus para pelajar yang terpaksa berhenti sekolah karena masalah ekonomi sebagai dampak dari adanya pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini.

Jadi, kita sebagai masyarakat—pelajar, orang tua maupun tenaga pendidik—harus turut serta berkontribusi dalam menghentikan penyebaran Covid-19 ini dengan mematuhi kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.Patuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan sebaiknya #Dirumahsaja.Kita berhak menyuarakan isi hati kita mengenai pembelajaran jarak jauh ini, entah itu sebuah kritikan, saranataupun solusi kepada pemerintah. Jika kasus Covid-19 menurun, kemungkinan sekolah dengan sistem tatap muka akan dibuka kembali dan kembali menjalankan aktivitas belajar mengajar kembali normal. (*)

Penulis adalah:Mahasiswa FISIP Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyyah Malang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *