oleh

Perjuangan Karina

Karina memang punya kegiatan sosial unggulan. Yang bisa meningkatkan harkat harga diri seorang manusia: dia terus melakukan operasi bibir sumbing. Sudah lebih 3.000 wajah orang sumbing dia sempurnakan.

Lupakan dulu Karina yang juga ahli stem cell dan ahli PRP −dua keahlian yang belum ‘’ditemukan’’ nama gelar spesialisasinya.

Kita fokus ke Karina yang kini lagi mengurus ‘’SIM’’ baru: aaPRP untuk penderita Covid.

‘’aa’’ adalah ‘’autologous activated’’. ‘’PRP’’ anda sudah tahu: platelet rich plasma.

Yakni plasma trombosit milik Anda sendiri yang diaktifkan. Plasma Anda sendiri itulah yang diinfuskan kembali ke tubuh Anda. Yakni kalau Anda lagi diserang Covid-19.

‘’aaPRP’’ akan mengatasi Covid karena isi trombosit itu mengandung protein anti radang, anti bakteri, dan protein penumbuh sel baru.

Itulah yang oleh Karina disebutkan bahwa “trombosit itu seperti apotek besar”. Ia menyediakan obat apa saja untuk tubuh kita.

Secara garis besar 1000 lebih zat yang ada di dalam trombosit itu dikelompokkan menjadi tiga fungsi utama: penumbuh (growth factor), anti sitokin/radang, dan anti bakteri/mikroba.

Ternyata trombosit itu hebat sekali. Ia tidak hanya tawaf ke seluruh tubuh sepanjang hari.

Tiga-tiganya itulah yang dimanfaatkan Karina untuk terapi Covid-19. Untuk itu dia harus punya teknologi untuk mengeluarkan isi trombosit. Untuk ditampung di tabung. Lalu diinfuskan ke pasien.

Maka Si pasien pertama-tama harus diambil darahnya: 25 cc. Kira-kira 2,5 sendok makan. Mirip dengan cara mengambil darah di lab pada umumnya. Hanya saja tabung tempat darahnya harus khusus. Hanya Karina yang punya −beli dari importir secara khusus.

Darah Anda itu lantas dibawa ke lab milik Karina −HayandraLab. Di Jakarta. Di situ diambil unsur trombositnya saja. Trombosit tersebut masih diproses lagi di lab Hayandra: ‘’dikupas’’ kulitnya. Diambil isinya. Lalu, aaPRP itu dibawa ke tempat pasien dirawat. Untuk dimasukkan ke tubuh pasien lewat cairan infus.

Untuk sembuh dari Covid perlu berapa kali infus aaPRP?

“Tergantung kondisi pasien,” ujar Karina. Tapi lantaran aaPRP itu berasal dari tubuh sendiri (autologous) berapa kali pun tidak membahayakan. Pasien yang menderita Covid ringan cukup sekali saja. Kian berat kian ditambah. Yang kasus Covid-nya berat sekali perlu aaPRP sampai lima kali.

Karina tidak menemukan teori itu begitu saja. Dia sangat serius melakukan penelitian. Bahkan dengan sepenuh hati. Mengapa hatinyi dihabiskan di lab? Itu karena Karina harus cari jalan keluar untuk suaminyi sendiri. Sang suami sakit tertentu. Juga untuk mengatasi penyakit orang lain yang juga sangat dia cintai:  ibunyi sendiri.

Dua-duanya, suami dan ibu, adalah dokter. Dua-duanya belahan jiwa. Dua-duanya harus selamat. Karina menemukan teori itu. Yang ternyata juga cocok untuk Covid-19. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *