INFO  

Pengembangan Kurikulum Yang Tertuju Pada Pusat Minat Merupakan Bentuk Penerapan Dari Konsep

makalah strategi pengembangan kurikulum|strategi pengembangan kurikulum pai|peranan kurikulum dalam pendidikan

Pengembangan Kurikulum Yang Tertuju Pada Pusat Minat Merupakan Bentuk Penerapan Dari Konsep
Pengembangan Kurikulum Yang Tertuju Pada Pusat Minat Merupakan Bentuk Penerapan Dari Konsep

Pendahuluan

Kurikulum dapat dipandang sebagai hal yang krusial dalam pendidikan karena pokok bahasan kurikulum mencakup arah, isi dan proses pendidikan yang pada akhirnya akan menentukan tingkat kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan, masing-masing….

Banyak pandangan yang telah diungkapkan tentang pengertian kurikulum, berikut pengertian kurikulum yang berasal dari beberapa sumber. Menurut Franklin Bobb (1918), kurikulum adalah mekanisme pembelajaran yang bertujuan yang digunakan oleh sekolah untuk mengembangkan kapasitas individu yang dimiliki oleh setiap murid.[1] Kurikulum dipandang sebagai “rencana yang telah disiapkan untuk memfasilitasi proses belajar mengajar, yang berada di bawah arahan dan tanggung jawab lembaga pendidikan dan staf pengajar.”[2][2].

Menimbang bahwa kurikulum oleh Emar Hamalik diartikan sebagai semua kegiatan dan pengalaman yang terorganisasi yang dimiliki siswa di bawah bimbingan sekolah, baik di dalam kelas maupun di luarnya.

Pengembangan Kurikulum Yang Tertuju Pada Pusat Minat Merupakan Bentuk Penerapan Dari Konsep
Advertisements
Pengembangan Kurikulum Yang Tertuju Pada Pusat Minat Merupakan Bentuk Penerapan Dari Konsep

Kurikulum menurut B. Otanel Smith, W. O. Stanley dan J. menurut Harlan Shores, kurikulum adalah “suatu urutan percobaan potensial yang dilakukan di sekolah dengan tujuan membiasakan anak-anak dan pemuda untuk berpikir dan bertindak secara kelompok.”[4].

Dari uraian di atas tentang pengertian kurikulum, dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan acuan yang digunakan untuk melaksanakan program pendidikan, baik aturan formal maupun informal. Untuk itu, kurikulum memiliki dampak yang besar bagi terciptanya kader-kader yang selanjutnya dapat mengharumkan nama bangsa dan negara. Agar mampu menciptakan atau melahirkan generasi emas yang akan menjadi harapan masa depan, setiap guru dan tenaga kependidikan lainnya wajib memahami kurikulum sekolah tempat mereka bekerja.

 

Tanpa kurikulum dalam suatu lembaga pendidikan, sulit untuk mencapai tujuan pendidikan, sehingga tanpa kurikulum, lembaga pendidikan dianggap berhasil atau sukses mencapai tujuannya apabila tujuan atau standar atau aturan baku dalam pendidikan dapat tercapai dengan baik, dan standar atau aturan baku pendidikan tidak dapat tercapai. pendidikan berada dalam kurikulum yang sesuai, sehingga tanpa kurikulum, lembaga pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik dan tidak dapat membina suatu keemasan.

Untuk itu, dalam pertanyaan ini saya akan mencoba menjelaskan pola kurikulum konseptual. Ada empat model konsep kurikulum, antara lain: kurikulum mata pelajaran akademik, kurikulum humaniora, kurikulum rekonstruksi sosial dan kurikulum teknologi.

 

Diskusi
MODEL KURIKULUM KONSEPTUAL YANG BERBEDA

 

Pola kurikulum konseptual berdasarkan teori pendidikan klasik disebut kurikulum subjek akademik, kurikulum humanistik berdasarkan pendidikan pribadi, kurikulum teknologi, dan kurikulum rekonstruksi sosial terbaru disebut instraksionis.

 

1. kurikulum mata pelajaran akademik

Kurikulum mata pelajaran akademik ini merupakan model kurikulum tertua, sejak berdirinya sekolah pertama kurikulum yang digunakan mirip dengan model kurikulum mata pelajaran akademik ini. Kurikulum mata pelajaran akademis didasarkan pada pendidikan klasik (Esensialisme dan Perenialisme), yang berorientasi pada masa lalu. Fungsi pendidikan adalah untuk melestarikan dan menularkan hasil-hasil budaya masa lalu. Kurikulum memprioritaskan konten pendidikan yang dapat diambil dari setiap disiplin ilmu yang ada. Sesuai dengan bidang ilmunya masing-masing, setiap ahli mengembangkan ilmu pengetahuan secara logis, beralasan, dan sistematis[5].

Para pengembang kurikulum tidak perlu menghadapi kesulitan menyusun dan mengembangkan materi sendiri, mereka cukup memilih materi yang telah dikembangkan oleh para ahli dalam disiplin ilmu dan kemudian mereka perlu menyusunnya kembali secara sistematis sesuai dengan tujuan pendidikan dan tahapan siswa yang mempelajarinya. Peran guru sangat penting sebagai penyaji materi pembelajaran kepada siswa, karena sebelum dapat menyampaikannya kepada siswa, guru harus terlebih dahulu menguasai semua materi pembelajaran atau pengetahuan. Minimal, mereka harus menguasai bidang pembelajaran yang akan disajikan kepada siswanya. Selain itu, sosok guru adalah contoh atau teladan di sekolah, apa dan bagaimana yang akan disampaikan harus menjadi bagian dari kepribadian guru. Guru dicerna dan ditiru[6].

Jerome Bruner, dalam pengajaran, menyarankan bahwa desain kurikulum harus didasarkan pada struktur disiplin ilmu. Mengingat kurikulum mata pelajaran harus didasarkan pada pemahaman mendasar yang berasal dari prinsip-prinsip yang mendasarinya. Tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kurikulum mata pelajaran akademik ini, antara lain: pendekatan pertama adalah pendekatan berbasis sumber (siswa belajar bagaimana cara memperoleh dan memverifikasi fakta-fakta daripada sekedar menghafalnya), pendekatan kedua adalah penelitian integratif (merespon tuntutan model pengetahuan yang lebih kompleks dan terintegrasi). Dalam pendekatan ini mereka mengembangkan model kurikulum terpadu (integrated curriculum) dan pendekatan ketiga adalah pendekatan yang biasanya dilakukan oleh sekolah-sekolah fundamentalis[7].

Dalam pendekatan ini, lebih banyak penekanan diberikan pada membaca, menulis dan memecahkan masalah matematika. Pelajaran seperti Sains, Ilmu Sosial diajarkan tanpa mengacu pada kebutuhan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Fitur-fitur Kurikulum Akademik

Tujuan dari Kurikulum Mata Kuliah Akademik adalah untuk memberikan pengetahuan yang mendalam dan mengajarkan kepada mahasiswa bagaimana menggunakan ide-ide mereka untuk proses penelitian yang akan dilakukan. Dengan pengetahuan yang mendalam, siswa harus dibekali dengan konsep dan alat yang dapat dikembangkan di masyarakat luas. Sekolah harus berada dalam posisi untuk memfasilitasi siswa untuk mewujudkan kemampuan mereka dalam mengeksplorasi warisan budaya. Metode yang digunakan dalam model kurikulum mata pelajaran ini adalah metode tanya jawab dan metode mempengaruhi. Ide-ide yang telah diberikan oleh guru akan diimplementasikan oleh murid-murid sampai mereka menguasainya dan mampu memecahkan masalah yang mereka hadapi. Pengetahuan yang ada dapat diperkaya dengan mempelajari buku-buku standar. [8] Ada beberapa model untuk mengorganisasikan isi kurikulum dalam mata pelajaran akademik. Model-model organisasi yang paling penting meliputi:

1. Kurikulum yang Terkait

Kurikulum berkorelasi adalah bentuk kurikulum yang menggabungkan satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, sehingga materi pembahasannya lebih luas. Doa dapat didiskusikan dalam pelajaran fikih atau Quran. Misalnya, subjek yurisprudensi mungkin terkait dengan subjek Al-Quran. Pada saat Siwa mempelajari salat, mungkin termasuk tema-tema dari Al-Quran dan hadits (Surah al-Fatihah dan surah lainnya) serta hadits-hadits yang berkaitan dengan salat.

Dalam silabus berkorelasi yang dikembangkan oleh para pendidik pada awal abad ke-20, dinyatakan bahwa mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain saling menguatkan dan melengkapi, sehingga membentuk suatu korelasi.[9] Ada 3 bentuk korelasi dalam bentuk korelasi silabus,[10] dianthania:

Korelasi acak atau tidak disengaja: kurikulum yang tiba-tiba diperkenalkan. Misalkan, mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berkorelasi dengan mata pelajaran IPS.
Korelasi etika: korelasi yang bertujuan untuk mengajarkan sopan santun kepada siswa, misalnya dalam mata pelajaran agama, juga membahas cara menghormati tamu, orang tua, teman, dll.
Korelasi Sistematis: kurikulum ini biasanya direncanakan oleh guru, misalkan cara bercocok tanam pagi dimasukkan atau disinggung dengan mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial.
2. Unified atau Concentrated Curriculum adalah pola organisasi yang terdiri dari bahan pelajaran yang tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencangkup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.

3. Integrated Curriculum adalah salah satu jenis kurikulum yang memberikan kesempatan yang lebih banyak untuk melakukan kerja kelompok, masyarakat dan lingkungan dijadikan sebagai sumber media pembelajaran, perbedaan individual anak sangat diperhatikan, dan mengikut sertakan siswa dalam membuat perencanan pelajaran.

Integrated Curriculum juga dikatakan sebagai suatu produk dari usaha pengintegrasian bahan pelajaran yang akan dilaksanakan dari berbagai macam pelajaran. Yang termasuk dalam Integrated Curriculum adalah Child Centered Curriculum (pusat perhatian utama terletak pada anak), The Social Curriculum (melegitimasi mata pelajaran yang ada dari keterpisahannya dengan fungsi utama dalam kehidupan yang menjadi dasar pengorganisasian pengalaman belajar), The Experience Curriculum (mempertimbangkan keberadaan anak didik dengan menggunakan pendekatan social function), Developmental Activity Curriculum (mementingkan minat dan tujuan anak), dan Core Curriculum (kurikulum bersumber dari adanya suatu masalah sosial/personal, yang memerlukan berbagai macam disiplin ilmu dalam proses pemecahannya).[11]

4. Problem Solving Curriculum adalah pola organisasi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang telah dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran. [12]

Tentang kegiatan evaluasi, evaluasi pada model kurikulm subjek akademis ini dilakukan dengan singkat. Dengan menggunakan model evaluasi formatif dan sumatif.

 

  • Pemilihan Disiplin Ilmu

Ada beberapa saran yang dapat digunakan dalam proses pemilihan disiplin ilmu dari model kurikulum subjek akademis[13], diantaranya:

Comprehensiveness (mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh)
Social Utility (mengutamakan kebutuhan masyarakat)
Prerequisite (menekankan pengetahuan dasar).
Penyesuaian Mata Pelajaran dengan Perkembangan Anak
Penyusunan bahan secara logis dan sistematis lebih diutamakan oleh para pengembang kurikulum subjek akademis. Pada umumnya mereka kurang memperhatikan bagaimana situasi siswa dalam proses belajar dan lebih perhatian kepada isi atau bahan yang diajarkan. Mereka menganggap materi yang diberikan bersifat universal, dan mengabaikan karakteristik siswa dan kebutuhan masyarakat setempat[14].

2. Kurikulum Humanistik

Konsep kurikulum humanistik memandang kurikulum dijadikan sebagai alat untuk pengembangkan diri setiap individu siswa. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang bisa memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bisa mewujudkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.[15]

  • Konsep Dasar

Kurikulum humanistik ini didasarkan pada konsep aliran pendidikan pribadi (Personalized Education) yaitu John Dewey (Progressive Education) dan J.J Rousseau (Romantic Education) semua aliran ini memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka mempunyai kepercayaan bahwa siswa adalah subjek utama dalam pendidikan (pusat kegiatan pendidikan). Mereka percaya bahwa setiap individu (siswa) memiliki kemampuan atau potensi yang bisa dikembangkan. Pendidikan tidak hanya mengarahkan atau membina manusia dari segi fisik dan intelektual saja melainkan  juga dari segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai, dll).[16]

Pendidikan mereka lebih ditekankan pada teknik bagaimana cara yang bisa dilakukan ketika mengajar siwa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap untuk menghadapi sesuatu. Dalam pendidkan tidak ada unsur pemaksaan , yang ada hanya dorongan dan rangsangan untuk berkembang. Ibarat seorang petani yang berusaha untuk menciptakan tanah yang gembur, air, uadra yang cukup, menghindarkan dari serangan hama semua itu dilakukan dengan maksd untuk bisa mendapatkan tamanan yang penuh dengan potensi.

  • Karakteristik Kurikulum Humanistik

Menurut pandangan para humanis, kurikulum berfungsi untuk menyediakan pengalaman berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi seorang murid. Kurikulum humanistik menuntut hubungan emosioanal yang baik antara guru dan murid, seorang guru harus mampu menberikan dorongan kepada murid atas dasar saling percaya satu sama lain. Sesuai dengan prinsip yang telah dianut, kurikulum humanistik menekankan integrasi, yaitu kesatuan perilaku, bukan hanya yang bersifat intelektual melainkan juga yang bersifat emosional dan tindakan.

Dalam proses evaluasi,
kurikulum humanistik memiliki model yang berbeda dari kurikulum lain, kurikulum humanistik tidak mempunyai kriteria pencapaian sebagaimana kurikulum subjek akademis. Sasaran mereka terletak pada perkembangan anak supaya menjadi manusia yang lebih terbuka, mampu berdiri sendiri.[17]

3. Kurikulum Rekonstruksi Sosial

Kurikulum rekonstruksi sosial sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan keadaan sosial masyarakat dan dunia politik perkembangan ekonomi. Contoh dari kurikulum rekonstruksi sosial adalah masalah hak asasi kaum minoritas, keyakinan dalam intelektual masyarakat dan kemampuan dalam menentukan nasib sendiri sesuai arahan yang mereka inginkan.  Kurikulum rekonstruksi sosial ini di dukung oleh ide sosial yang dibatasi oleh konsensus sosial. Kurikulum rekonstruksi sosial ini dapat berkembang dengan cepat ketika dalam proses pengajarannya melibatkan peran orang tua dan masyarakat dan juga sekaligus sebagai pelayan sosial.[18]

Tujuan dari kurikulum rekonstruksi sosial adalah untuk menghadapkan peserta didik pada berbagai permasalahan yang dihadapi oleh manusia dan kemanusiaan. Kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan dalam kurikulum rekonstruksi sosial antara lain melibatkan:

Survey kritis terhadap suatu masyarakat
Studi yang melihat hubungan yang terjadi antara ekonomi lokal dengan ekonomi sosial, nasional dan internasional.
Berbagai pertimbangan perubahan politik
Pembatasan kebutuhan dari masyarakat pada umumnya
Studi tentang pengaruh sejarah dan kecenderungan situasi ekonomi lokal
Uji coba mengenahi keterkaitan anatara praktik politik dan perekonomian[19]
Dalam model kurikulum ini, guru berperan sebagai media penghubung antara tujuan peserta didik dengan manfaat lokal, nasional dan internasional. Model pembelajaran yang dilakukan harus memenuhi tiga kriteria berikut, diantaranya nyata, membutuhkan tindakan, dan hal yang diajarkan harus mengandung nilai.[20]

 

  • Desain Kurikulum Rekonstruksi Sosial

Ada beberapa ciri dari desain kurikulum ini, diantaranya[21]:

Asumsi. Tujuan utama kurikulum rekonstruksi sosial adalah menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatam atau gangguan  yang dihadapi oleh manusia. Contoh tantangan yang terjadi  berasal dari masalah ekonomi, sosial, psikologi, dll.
Masalah-masalah sosial yang mendesak. Pertanyaan pertanyaan yang di maksud mengandung arti yang mendalam karena pertanyaan yang ada bukan hanya berasal dari bku-buku melainkan berasal dari kehidupan nyata dalam masyarakat. Seperti contoh: dapatkah kehidupan  seperti sekarang ini memberikan kekuatan untuk mengahadapi ancaman yang nantinya akan menggaggu integritas kemanusiaan?
Pola-pola Organisasi. Pola organisasi kurikulum disusun bagaikan sebuah roda, dimana titik tengah dijadikan sebagai poros yang dipilih suatu masalah yang menjadi tema utama, dari tema utama ini akan dijabarkan sejumlah topik yang akan dibahas dalam diskusi-diskusi kelompok.
Komponen-Komponen Kurikulum

Kurikulum rekonstruksi sosial memiliki konponen yang sama dengan model kurikulum yang lain, yang membedakan terletak pada bentuk-bentuknya[22].
Tujuan dan isi kurikulum. Tujuan program pendidikan setiap tahun mengalami perubahan.
Metode. Para pengembang kurikulum digunakan untuk mencari keselarasan antara tujuan-tujuan nasioanal dengan tujuan siswa.  Seorang guru berusaha membantu siswa untuk menemukan minat dan kebutuhannya.
Evaluasi. Evaluasi dalam kurikulum rekonstruksi sosial mencangkup spektrum yang sangat luas (kemampuan peserta didik untuk menyampaikan permasalahan yang ada, pemecahan masalah yang ada, pandangan tentang dunia, serta keinginan untuk mengambil tindakan atas ide yang ada, evaluasi dilakukan dengan melibatkan peran siswa.

4. Kurikulum Teknologi

Di dunia pendidikan, teknologi mempunyai peran yang sangat besar, teknologi sudah dikenal dalam bentuk pembelajaran yang berbasis komputer, kaset atau video pembelajaran.  Ada beberapa pihak yang belum menyadari tentang pentingnya teknologi. Keberadaan teknologi sangat membantu dalam menganalisis masalah kurikulum, mulai dari pembuatan, implementasi, evaluasi, dan pengelolaan instruksional. Bukti teknologi memengaruhi kurikulum adalah dengan dua cara, yaitu aplikasi dan teori.[23]

 

Aplikasi teknologi adalah suatu rencana penggunaan beragam alat dan media pembelajaran (tahapan basis intruksi). Sedangkan yang dimaksud sebagai teori adalah teknologi digunakan dalam proses pengembangan dan evaluasi mengenahi materi kurikulum dan instruksional. Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologis yang digunakan untuk menunjang efisiensi dan efektifitas pendidikan. Kurikulum yang berisi rencana rencana penggunaan berbagai alat dan media dalam proses pembelajarannya.  Contoh-contoh model pengajaran tersebut adalah: pengajaran dengan bantuan video/film, pengajaran berprogram, mesin pengajaran, pengajaran modul, pengajaran dengan bantuan komputer.[24]

Inti dari kurikulum teknologi adalah keyakinan bahwa meteri kurikulum yang akan digunakan oleh peserta didik sebaiknya dapat menghasilkan kompetensi khusus. Terdapat tiga permasalahan yang belum terpecahkan dalam kurikulum teknologi, yaitu:

Kesalahan hierarki dalam standart pemisahan dari penguasaan belajar
Penerapan yang tidak tepat dalam menghadapi sesuatu yang tidak pasti
Keterbatasan konsep individualisasi[25]
Peran teknologi dalam proses peningkatan kualitas kurikulum dengan cara memberikan kontribusi mengenahi keefektifan instruksional, tahapan instruksional serta memantau perkembangan peserta didik.

Kurangnya perhatian pada penerapan dan dinamika inovasi menjadi salah satu bentuk kelemahan kurikulum teknologi. Model teknologi seperti ini hanya menekankan pada pengembangan efektifitas produk saja, sedangkan linkungan yang lebih luas seperti organisasi sekolah, sikap guru, cara pandang masyarakat sangat kurang perhatian.[26]

 

  • Ciri-Ciri Kurikulum Teknologis

Kurikulum yang dikembangkan berasal dari konsep teknologi pendidikan, memiliki beberapa ciri khusus[27], diantaranya:

Tujuan (lebih diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku)
Metode (pengajaran bersifat individual, setiap siswa akan menghadapi berbagai tugas yang harus diselesaikan dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing)
Organisasi Bahan Ajar (banyak diambil dari disiplin ilmu yang telah mengalami modifikasi sehingga mampu mendukung penguasaan sesuatu kompetensi).
Evaluasi (dilakukan setiap saat, akhir pelajaran ataupun akhir semester, umumnya berbentuk tes objektif).

  • ANALISIS PEMBAHASAN

Berdasarkan penjelasan yang sudah diuraikan diatas, dapat dipahami model-model konsep kurikulum terdiri dari empat macam, diantaranya ada kurikulum subjek akademik, kurikulum humanistik, kurikulum rekonstruksi sosial dan yang terakhir adalah kurikulum teknologi. Setiap model kurikulum mempunyai kriteria pencapaian yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran pada suatu lembaga pendidikan masing-masing. Penerapan kurikulum dalam pembelajaran disesuaikan dengan tingkat pendidikan tertentu. Adapun kurikulum pendidikan saat ini yang diterapkan di indonesia adalah model kurikulum 2013. Dimana sudah diketahui kurikulum 2013 adalah salah satu kurikulum yang berbasis kompetensi yang dulunya pernah digagas dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun 20004 yang belum sempat terselesaikan karena adanya desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006.

Dengan adanya kurikulum 2013 ini, diharapkan seorang pendidik dan lembaga kependidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang utuh (menghasilkan lulusan yang kompetitif, inovatif, kreatif, kolaboratif serta berkarakter). Dari beberapa sumber menyatakan Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:

Meningkatkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik

Sekolah dijadikan sebagai tempat yang dapat memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar

Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat

Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan

Kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

Jika dilihat dari karakteristik kurikulum 2013 diatas, sesuai dengan model konsep kurikulum, meningkatkan keseimbangan spiritual, sosial dan intelektual merupakan salah satu ciri kurikulum subjek akademis. Sedangkan memanfaatkan masyarakat sebagai media sumber belajar merupakan ciri dari model kurikulum rekonstruksi sosial. Mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan dan keterampilan merupakan ciri kurikulum humanistik dan mengakumulasikan antar mata pelajaran untuk prinsip saling memperkuat adalah bentuk ciri dari model kurikulum teknologis.

 

Jadi, dari sini dapat dipahami bahwa kurikulum 2013 termasuk kumpulan atau gabungan dari berbagai model konsep kurikulum yang ada. Setiap model kurikulum mempunyai fungsi masing masing sesuai dengan bidangnya. Untuk itu diharapkan dengan adanya kurikulum 2013 ini dapat membawa Indonesia menuju kejayaan yang dapat melahirkan generasi yang berkualitas sebagai penerus bangsa.

 

  • PENUTUP

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa model konsep kurikulum ada 4 macam, diantaranya Model konsep kurikulum yang berasal dari teori pendidikan klasik disebut kurikulum subjek akademis, kurikulum humanistik berasal dari pendidikan pribadi, kurikulum yang berasal dari teknologi pendidikan disebut kurikulum teknologis dan yang terakhir kurikulum rekonstruksi sosial yang bersal dari pendidikan instraksionis.

1. Model Kurikulum Subjek Akademik

Kurikulum subjek akademis ini memiliki sumber dari pendidikan klasik (esensialisme dan perenialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Kurikulum lebih mengutamakan tentang isi dari pendidikan yang dapat diambil dari setiap disiplin ilmu yang ada. Sesuai dengan bidangnya para ahli masing-masing,

2. Kurikulum Humanistik

Konsep kurikulum humanistik memandang kurikulum dijadikan sebagai alat untuk pengembangkan diri setiap individu siswa. Dalam proses evaluasi, kurikulum humanistik tidak mempunyai kriteria pencapaian, Sasaran mereka terletak pada perkembangan anak supaya menjadi manusia yang lebih terbuka, mampu berdiri sendiri

3. Kurikulum Rekonstruksi Sosial

Kurikulum rekonstruksi sosial sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan keadaan sosial masyarakat dan dunia politik perkembangan ekonomi. Dalam model kurikulum ini, guru berperan sebagai media penghubung antara tujuan peserta didik dengan manfaat lokal, nasional dan internasional.

4. Kurikulum Teknologi

Kurikulum yang berisi rencana rencana penggunaan berbagai alat dan media dalam proses pembelajarannya.  Contoh-contoh model pengajaran tersebut adalah: pengajaran dengan bantuan video/film, pengajaran berprogram, mesin pengajaran, pengajaran modul, pengajaran dengan bantuan komputer.

Inti dari kurikulum teknologi adalah keyakinan bahwa meteri kurikulum yang akan digunakan oleh peserta didik sebaiknya dapat menghasilkan kompetensi khusus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *